refleksi diri, slice of life

Manusia Sempurna

Sakit. Sudah lama sekali sejak aku mengingat rasa sakit ini. Rasa sakit yang mengobsesikan tentang kematian. Saat-saat manusia tercarebut kuasanya yang fana. Lemah, tiada berdaya. Hanya dengan seuntai kata-kata bermakna benci, negasi dari makna cinta.

cri hide
「Cinta manusia itu bullshit. Tidak ada yang namanya cinta yang sempurna. Hanya Tuhanlah yang punya segala kesempurnaan. Sedang manusia asalnya papa. Jadi siapa yang menyuruhmu percaya padaku yang mengaku mencintaimu. Aku manusia dengan cinta yang sempurna pada awalnya. Mencintaimu. Engkau, (makhluk) pilihan Tuhan. Cintamu sempurna. Akan tetapi, kutegaskan sekali lagi, takdirku adalah manusia. Berbeda denganmu, manusia sempurna jika Tuhan bersamanya.」

「Sungguh, aku benci menyalahkan siapapun. Bad-mouthing seseorang itu menyakitkan. Bukan orang itu tapi, (juga) bagiku. Merepotkan. Aku tipe orang yang menghindari hal merepotkan atau rumit. Pada suatu ketika, ada kalanya aku malah menubrukkan diri dengan sesuatu yang merepotkan itu. Dengan sadar, kuakui, saat sakit itu melanda selalu muncul rasa dari dalam diri entah sebagian, entah keseluruhan, keinginan untuk menyalahkan. Apakah untuk excuse terhadap ketidakberdayaan dirimu sendiri memikul rasa sakit yang telah kau anggap melebihi batas? Jangan samakan telah dan hampir. Pertanyaannya adalah batas yang mana?」

「Mama bilang untuk diam saja. Tutup mulutmu untuk mengeluarkan kata-kata tidak baik. Kunci tubuhmu untuk tidak berlaku sesuai fungsinya. Terus berusaha saja untuk berlaku sebagai mana wajarnya. Sebagaimana fitrahnya. Tanpa perlu menuntut balas. “Kutuk saja orang itu karena aku telah didzolimi.” Come on, ini bukan lagi zaman Maling Kundang. Kedewasaan itu bisa berarti kelapangan dada dan mungkin otak juga diperlukan.
Tak pernah Mama ngajarin buat menyimpan prasangka buruk. Tak pernah Mama ngajarin tentang berucap yang jelek tentang orang lain meskipun kelihatannya jelas begitu.」

「Wilayah manusia
memang,
wilayah kasat mata.」
Kalau tak sanggup menahan diri memancing orang. Diam?

large

「Yang ada hanyalah doa baik meskipun udah didzolimi. Itu yang Mama ajarkan. Yang ada adalah prasangka baik. Sejelek apapun yang terlihat. Wallahu sami’un ‘aliim. Wallahu ‘ala kulli syai in qodiir. Ikhtiar terbaik adalah dengan kebaikan pula. Kenapa? Kenapa masih gagal?
Dalam berikhtiar?
Dalam bersabar?
Dalam berprasangka?」

「Mungkin, iya. Mungkin oleh sebabnya kau manusia. Manusia tak sempurna. Manusia yang terbelah dua dari Tuhannya」

Advertisements
puisi

Tungku di Pawon

Seperti api pembakaran yang telah lama padam
Abunya tertiup jauh oleh angin
Tiap debunya beterbangan sendiri-sendiri
Tak lama, harus tersimpul erat
Menyatukan hati tak semudah menyambung ucap
Ketika akhirnya ikatan itu boleh lepas
Ada yg terlalu dramatis
Ada yg biasa saja
Ada pula yg tidak peduli, cenderung bahagia

Seperti api pembakaran yg telah lama padam
Setumpuk sekam pun tak mampu menghidupkan
Angin tak lagi membantu mengumpulkan yg berserakan
Apakah sudah saatnya tungku dibuang?

Menyatukan hati bisa jadi semudah menyambung ucap
Hanya ucap yg ringan, hati mengambang
Selebihnya hanya angan-angan
Ketika menjauh seperti mati suri
Jatuh cinta pada memori

(30/11/14)


Latepost lagi. Kali ini mencuplik dari catatan di android. Sony memang sudah hilang. Tapi evernote masih menyimpannya.

This is dedicated to SU2: mas Halwan, mas Eki, mbak Pit, Hakim, dan mbak Ria

puisi

Pulang

(2 – 4 November ‘15)

III Mengeratkan Mimpi-mimpi

Aku selalu merindui perjalanan

Saat semuanya tenang dan penuh tujuan

Tiada kesia-siaan

Tiada penyesalan

Tiada kegamangan

Di sana aku bertemu orang-orang yang kurindukan

:BANDUNG

Tapi aku tidak ingin jadi anak badung

Bolehkah, ma?

Setelah semua ini berakhir

Dan aku bisa tertawa-tawa

Sedikit melupakan rasanya derita


skripsi pada dini hari—

puisi

Pulang

(2 – 4 November ’15)

II Berburu Doa

Tiada pernah orang bermaksud untuk menyakiti yang lainnya

jika saja mereka tahu

rasa sakit yang lainnya rasakan

atau ia mengalami kelainan pada apa-apanya

pada jiwanya yang mati rasa.

Siapa yang berani mencurinya?

Siapa yang bernyali membunuhnya?

Hanya oleh sebab hubungan darah semata

Hanya sebab oleh hubungan hutang budi semata

Tiadalah semua itu memang fana

Di dunia fana

Mungkin dirimu sendirilah pelakunya.

Tiada mau berdaya,

Ia yang tiada mau berjaya.

Ah, bukan. Maafkan aku lagi-lagi menudingmu.

Melakukan perbuatan yang hina

Yang sudah diketahui pada umumnya

Ia berbangkai!

Ia berbau darah orang-orang tak bersalah.

Siapa yang tega?

Itulah aku.

Ya. Aku.

Ak.

A.

.

#

“Terima kasih.”

Bukan itu kata yang hendak kuucapkan

Tak sanggup rasanya,

Meski semua memaksa

Adalah “Maaf.”

Setulusnya aku meminta

Pada lidah yang tak sanggup berkata

Hati ini terlanjur ternoda

Kepala terlalu tinggi

Menyembunyikan tangisku sendiri.

“Maaf.”

Kiranya doaku

Bisakah diterima?

Oleh ucapan yang tak sampai padamu, pada dia, pada mereka?


—Pada selembar kertas bernama status kita di dunia

puisi

Pulang

(2 – 4 November ’15)

I Jalanan Tiada Lagi Lengang

Dikejar-kejar oleh rutinitas yang berubah jadi ritual kesetanan

Badan dan pikiran. Pun siklus bulanan.

Lengkap sudah kefuturan.

Tiada sapa, tiada tawa, tiada sentuhan yang sampai ke hati.

Hampa.

Aku tak bisa lihat apa-apa. Aku mulai merindukan utopia.

Angan-angan dari orang-orang yang kuharap tiba. Tapi tanpa usaha, mereka tiada.

Bahkan doa pun tak lagi kuasa. Suaraku senyap, tercekik hampir putus asa.

Pada detik kesekian aku berhasil melompat lari dari minggu penuh kepadatan.

#

Aku duduk tinggi menghadap jalanan

Terhampar panjang ditingkahi kendaraan

Sorot lampu dim dan riting menjadi nyanyian aamiin

Entah saat aku berdoa atau tidak

Suaramu tiba-tiba menyela klakson truk yang ingin lewat

Aku terpaku keheranan

Bagaimana suara bisa berbayang tanpa cahaya?

##

Aku lelah tapi tiada ingin tidur

Aku belum cukup makan

Saat kau merenggutku tiba-tiba

Pasrah saja

tiada seorangpun yang bertanya sedemikian rupa

Berhari-hari

tiada seorangpun yang menyapa sedemikian aneh

Takjub saja

Sehingga kutunggu saja kamu yang bercerita tanpa jeda

Memaksaku menjalankan otak yang telah menjadi sedikit lambat

pada kesadaran yang bercabang dua

“Aku harus berdoa, harus doa banyak-banyak. Aku kan musafir.”

Tapi doa seperti apa?

“Ya muqollibal quluub… tsabbit qolbi ‘ala diinik. Ya Allah jagalah hati ini agar tetap pada agamaMu…”

Kau masih jua merampasnya tiba-tiba

Menyisakan aku termangu-mangu, gagu

Pendar-pendar kendaraan seakan buram

Di mataku, aku berharap itu hujan

Melahap suaramu. Melesapkan anganku.

Saat kau terus bercerita tentang apa saja

Dan aku hanya berdehem.

Sambil meraba-raba

Allah sudah skenariokan semua.

Perlukah aku mengadu bahwa hatiku telah menjadi biru?

Aku tergugu.

‘Kenapa aku selalu menulis puisi

pada orang yang tak bisa kusampaikan suaraku?’

:di sini, hujan masih abu-abu

Dan aku hanya berdehem.

:kecewa

orang macam kau

dan orang macam aku

larut pada malam yang ber-AC

dalam kotak beroda

:ia buram sebab embun

lalu dihapus oleh matahari tanpa sisa

esoknya