refleksi diri, slice of life

Hadiah Akhir Tahun 2016

Tahun 2016 itu sesuatu banget. Meskipun saya belum bisa menyelesaikan tugas akhir, banyak hal yang terjadi, upside down berkali-kali, nyatanya saya masih survive ke awal tahun 2017 ini.

Salah satu wujud peninggalan tahun 2016 adalah sebuah novel hadiah dari event fanfiksi tahunan SasuHina Days Love. Ini novelnya sudah sampai, alhamdulillah …

 

img-20161227-wa0001

Saya seneng banget ada yang menghadiahi novel salah satu penulis kesukaaan saya yaitu Agatha Christie.

Terima kasih ya atas hadiah bukunya buat Kenzeira dan panitia penyelenggara, sang founder woman, Gina Atreya. Semoga sukses buat event-event ke depannya.

Bagi yang ingin membaca review singkatnya, kebetulan sekali saya sudah pernah membuatnya sekitar awal tahun kemarin, di sini:

Misteri Burung Hitam

Jangan tanya kenapa reviewnya awal tahun 2016 padahal saya dapat hadiahnya sekitar Desember kemarin, hehehe.

Cerita yang saya buat biasa aja sih. Malah kata adik saya banyak plot hole dan pemilihan kata yang nggak bener. Itu pertama kalinya saya bikin empat ribu kata sekitar seminggu plus riset serabutan.

Ide itu mulai muncul ketika acara nobar film dokumenter berjudul “Five Broken Cameras” yang diadakan oleh SRUPP (Solidaritas Rakyat untuk Pembebasan Palestina) ditemani oleh mbak Diput.

Film itu berkisah tentang seorang netizen, warga Palestina, hanya berbekal oleh kamera berusaha mengisi kegiatan dengan merekam hari-harinya. Tembok aparteid waktu itu mulai dibangun. Mula-mula hanya berupa kawat besi. Lama-kelamaan semakin tinggi membatasi mereka dengan sebagian tanah warga yang berisi kebun tin, salah satu sumber penghidupan mereka. Satu-satunya cara melawan hanya lewat demonstrasi tiap bakda shalat Jumat. Kadang demo berakhir rusuh. Beberapa kali sang netizen ikut merekam demo dan kameranya jadi rusak sampai kamera kelima.

bd5077b911a55780e2006f9fc00f7bd4

Credit gambar: visualizing Palestine.  Di sana banyak data-data terkini tentang Palestina berbentuk visual.

Jadi, memang cerita saya masih nggak ada apa-apanya dengan realita di sana. Itu murni fiksi belaka. Bahkan mungkin sama sekali nggak mencerminkan suasananya. Saya cuma berharap dengan cerita itu saya berusaha memantik diri sendiri untuk lebih peka dengan dunia luar terlebih saudara sendiri nun jauh di sana.

Sampai kemudian berita-berita tentang Aleppo mencuat. Saya masih belum apa-apa. Belum bisa ke mana-mana ….[]