kajian, Liputan, refleksi diri, slice of life

Menjaga Kerinduan

Sebuah resume kajian pada ramadhan 1436 H

 

Bila Ramadhan hanyalah sebuah momentum. Ia datang setahun sekali membawa banyak lowongan kebaikan, membawa banyak berkah. Ia datang setahun sekali membawa perintah puasa. Ia datang setahun sekali membawa diskon besar-besaran, liburan panjang, dan bonus THR spesial. Sungguh momentum yang sangat istimewa. Ia memang bukan waktu satu-satunya waktu untuk melakukan perubahan. Akan tetapi, memenuhi hari dengan perubahan kebaikan adalah satu-satunya hal yang harus dilakukan di dalamnya.

 

Sudahkah ada target yang harus tercapai?

Sudahkah dituliskan rencana-rencana selama Ramadhan?

Sudahkah harap-harap cemas akan kedatangannya?

 

Agenda yang kadang terlalu padat atau malah terlalu luang, kadang melenakan. Ada banyak alasan yang dibuat atas kealpaan-kealpaan yang kerap menyambangi. Apakah sudah cukup berusaha untuk menghilangkan resah di hati? Kadang ada begitu banyak tanya yang kita mencukupkan diri untuk mencari jawabannya. Kadang ada sayatan yang bertambah ketika men-dzalim-i orang lain, dan abaikan saja. Kadang ada dongkol yang terus subur melihat kebahagiaan orang lain. Astaghfirullahal’adziim….

 

Begitulah mungkin yang terjadi ketika akal, hati dan jiwa melakukan tugas yang tidak semestinya. Misalkan untuk makan, cukup tugas untuk akal. Menghafal dan memahami itu tugas hati, dan tugas jiwa adalah ketika mendengar kalamullah. Jika telah sampai tahap jiwa, maka tingkatannya adalah ihsan.

 

Diperlukan jiwa yang kuat agar bisa mencapai tingkatan tersebut. Jiwa sendiri merupakan sosok yang pernah dekat dengan Allah dan berasal dari-Nya sehingga bisa diartikan bahwa jiwa adalah penghubung manusia dengan Allah dan alam akhirat. Jika jiwa diibaratkan ponsel dan yang membuat hubungan lancar adalah daya baterai dan pulsa maka daya tersebut dapat diperoleh dengan terus menabung kebaikan sehingga sinyalnya menjadi kuat.

 

Lalu, bagaimana dengan jiwa yang tidak bisa terhubung? Mungkin pulsanya habis dan sinyal hilang. Maka dari itu perlu di-charge berulang-ulang agar mempunyai cadangan yang tidak pernah habis. Momen itu telah Allah sediakan gratis plus plus bonus yaitu bulan Ramadhan.

 

Kebaikan yang diperlukan jiwa, utamanya tauhidullah. Shalat dan membaca Alquran adalah asupan untuk hati. Sedangkan jiwa adalah cinta kepada akhirat (hubbul akhiroh) dalam surah Al-A’rof telah disebutkan, Qoolu balaa syahidna…. Dan dalam bulan Ramadhan insya Allah adalah momentum yang pas untuk camp training.

 

Rasulullahﷺ Dalam hadits Qudsi bersabda: “Fainnahu lii, wa ana ajrihi bih … Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.”

 

Menjaga kerinduan akhirnya bukan sekadar ucapan dengan strategi sempurna di atas kertas. Bukan pula ke-alay-an hati dalam ber-baper-ria, bukan pula menolak segala yang ada dan diam. Menjaga kerinduan berarti berjuang. Terus meminta terus meminta terus meminta… agar sang pemilik rindu itu menjaga rindu kita. Dan mendekatkannya, memudahkannya. Bismillahirrahmanirrahim.

 

Semangat perubahan! Semangat menyongsong Ramadhan! Semangat menjaga kerinduan! Sudahkah kau siap, menyambut datangnya tamu yang penuh berkah? Sebentar lagi… sebentar lagi…

Review

Bab III Keharusan Memuliakan Ahluquran dan Larangan Menyakiti Mereka

Bab ini dibuka oleh surat Al-Hajj: 32 tentang ketakwaan yang timbul disebabkan oleh mengagungkan syiar-syiar Allah swt dan melakukan hal tersebut itu lebih baik di sisi Rabbnya (QS Al-Hajj: 30). Serta anjuran untuk berendah hati kepada orang yang beriman (QS Al-Hijr: 88) dan dosa bagi orang yang menyakiti orang mukmin laki-laki maupun perempuan tanpa ada kesalahan yang mereka buat (QS Al-Ahzab: 58)

Salah satu bentuk pengagungan kepada Allah swt adalah memuliakan penghafal Alquran. Hal ini juga sesuai denga hadits Rasulullah saw yang memerintahkan umatnya untuk memosisikan orang sesuai dengan kedudukannya. Allah juga berfirman bahwa yang menyakiti wali Allah swt berarti mengumumkan perang terhadap-Nya.

Ada sebuah kisah pada perang Uhud. Ketika itu, para sahabat akan menguburkan jenazah dua orang syahid perang Uhud dalam satu kuburan.  Mereka kebingungan diantara mereka berdua manakah yang harus diletakkan terlebih dahulu? Kemudian datanglah Rasulullah, beliau bersabda supaya menguburkan terlebih dulu yang lebih banyak hafalan Alqurannya.

8 Februari 2015

republish 28.03.2015

Review

At Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an

Ahlan wa sahlan semester terakhir di Humaira. Semester ini kita belajar tentang tentang Adab-Adab bagi Penghafal Quran kitab karangan Imam Nawawi. Beliau bernama asli  Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Nawawi merupakan nama daerah tempat beliau dilahirkan yaitu di suatu kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H. Sejak kecil beliau sudah gemar menuntut ilmu dan menyelesaikan hafalan Alqurannya sebelum baligh.
Mulai usia 18 tahun beliau memulai perjalanan tholabul ilminya ke Dimsyaq, kota para ulama. Di sana beliau rajin menuntut ilmu, dalam sehari bisa menghadiri 12 halaqah. Imam Nawawi mengungguli teman-temannya yang lain dalam hal menuntut ilmu dan tolabul ilmi dan menghafal. Guru-guru beliau diantaranya: Abul Baqa’ An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy, Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi.
Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Damsyiq). Di sana ia mengajar tanpa mengambil gaji. Beliau digelari Muhyiddin namun karena tawadhu’ beliau membencinya.
Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara’ dan bertaqwa. Beliau sederhana, qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: “Tandatanganilah fatwa ini!!” Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: “Kenapa !?” Beliau menjawab: “Karena berisi kedhaliman yang nyata.” Raja semakin marah dan berkata: “Pecat ia dari semua jabatannya!” Para pembantu raja berkata: “Ia tidak punya jabatan sama sekali.” Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya: “Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?” Raj apun menjawab: “Demi Allah, aku sangat segan padanya.
Tahun 24 Rajab 676 H Imam Nawawi meninggal dunia meninggalkan ‘anak-anaknya’ yang kini tersebar luas bahkan dikalangan para awam salah satunya adalah kitab berjudul At Tibyan Fi Adabi Hamalatil Quran (Adab-Adab BAgi Penghafal Alquran) yang terdiri atas 10 Bab:

  1. Keutamaan Pembaca Alquran dan Pembacanya
  2. Keutamaan Qiraah dan Ahluqiraah
  3. Keharusan Memuliakan Ahluqur’an dan Larangan Menyakiti Mereka
  4. Adab Pengajar dan Pelajar Alquran
  5. Adab Para Penghafal Alquran
  6. Adab Membaca Alquran
  7. Adab Mulia Terhadap Alquran
  8. Anjura Membaca Ayat dan Surah Pada Waktu dan Keadaan Tertentu
  9. Menulis dan Memuliakan Mushaf Alquran
  10. Akurasi Nama dan Bahasa Dalam Kitab Sesuai Urutan Letaknya.

Sumber: Burhanuddin, Anas. 2009. “Biografi Ringkas Imam Nawawi”. http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html. Diakses pada Ahad, 15 Maret 2015 pukul 14.30

Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an Nawawi. Umniyyati Sayyidatul Hauro’, dkk (penj.). 2014. “At-Tibyan, Adab Para Penghafal Al-Qur’an”. Sukoharjo: Penerbit: Al-Qowwam.

Kelas Diniyah Ustadz Talqis Nurdiyanto, Lc.

15.03.2015

Review

Fasal 1 Pengertian Ilmu, Fiqih, dan Keutamaannya

Perbedaan orang pemikir dan berakal yaitu;
Orang pemikir belum tentu berakal namun orang berakal pasti pemikir dan mau menerima kebenaran dari Allah subhanahu wata’ala. Maka setiap muslim diwajibkan untuk menuntut muslim sebagaimana tertera dalam hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim-muslimah.” HR. Muslim

Ilmu seperti apa yang harus kita pelajari? Ilmu kan banyak banget…

Kata Syeikh Az-Zarnuji tidak wajib semua ilmu. Tapi, ada yang namanya ilmu Hal. Apa sih itu ilmu Hal? Ilmu Hal itu adalah ilmu yang selalu diperlukan dalam melaksanakan agama, yaitu ilmu Ushuliddin dan Ilmu Fiqih. Selain itu juga berilmu terkait dengan amal yang akan dilaksanakan. Jadi ketika melaksanakannya kita nggak hanya ikut-ikutan dalam melaksanakannya. Bisa jadi, dalam satu waktu kita memiliki banyak ilmu yang harus dipelajari dan tentunya disusun menurut skala prioritas. Misal: (1) Ilmu mengenai ibadah fardhu (2) Ilmu yang berkaitan dengan profesi yang dijalani dan interaksi sosial (3)Ilmu tentang masalah hati.

Tidak semua ilmu wajib dipelajari ada yang bersifat fardhu kifayah juga lho. Misalkan ilmu falaq (ilmu yang berkaitan tentang perbintangan) dalam suatu daerah jika ada yang sudah pakar meskipun hanya seorang/ beberapa maka gugur kewajiban pada yang lainnya.

Ilmu juga yang membedakan manusia dengan hewan. Ilmu merupakan perantara menuju ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bisa menjadi perhiasan bagi pemiliknya serta mengantarkan pada kemuliaan. Bagaimana bisa? Yaitu dengan ilmu kita bisa memberi manfaat kepada yang kurang ilmunya. Jika sudah dirasa kurang bermanfaat berarti saatnya leveling nih, upgrade! Upgrade!

Tahu nggak kelebihan ilmu itu apa aja?
• Ilmu yang bermanfaat itu bagaikan pohon yang berbuah ibadah
• Ilmu itu lebih utama daripada ibadah. Tidur orang yang berilmu lebih disukai daripada ibadah orang yang tak berilmu.

Oh ya tentang ilmu fiqih juga ada yang bilang lho, sebaik-baik pemimpin adalah yang faqih karena ia merupakan pelindung bagi pemiliknya dari marabahaya. Namun jika tidak ditadabburi dengan sungguh-sungguh makan akan jadi bumerang.

Imam Abu Hanifah dan Muhammad bin Hasan bilang bahwa orang zuhut itu orang yang menjaga dirinya dari hal-hal syubhat dan makruh dalam segala aktivitas agama.
Beberapa kriteria orang berdasarkan ilmunya yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali dan pernah disampaikan juga oleh Kholil bin Ahmad:
“Orang yang berilmu dan paham bahwa dia berilmu
Orang yang berilmu tapi tidak paham bahwa dia berilmu
Orang yang tidak berilmu dan dia paham bahwa dia tidak berilmu
Orang yang tidak berilmu dan dia tidak paham bahwa dia tidak berilmu”

Termasuk yang manakah kamu? Semoga Allah melindungi kita semua dari bahaya ketidaktahuan dan ilmu yang tidak bermanfaat. Allahua’lam bisshawwab.

23 September 2014
written on, 23.02.2015

Review

Ta’limul Muta’allim (Sebuah Ringkasan)

Bagi para penuntut ilmu yang juga mengharapkan keberkahan ilmunya buku ini merupakan salah satu tuntunan yang bisa dibaca. Meskipun dibuat berdasarkan kebiasaan pada zaman penulisnya, banyak hal masih bisa diambil hikmahnya.
Nama penulisnya adalah Syeikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Syeikh adalah panggilan kehormatan bagi orang yang berilmu. Burhanuddin merupakan gelar beliau yang berarti bukti kebenaran agama. Az-Zarnuji merupakan nama kota tempat beliau tinggal, kota Zarnuj. Sedangkan nama aslinya sendiri sampai sekarang belum ditemukan dalam literatur-literatur.

Zarnuj merupakan salah satu wilayah Afghanistan, dekat perbatasan Irak. Tidak banyak dikenal tahun kelahiran beliau. Adapun tahun wafat beliau ada perbedaan dari catatan-catatan yang ditemukan. Ada yang menyebutkan tahun 591 H, 593 H, 597 H.

Guru-guru beliau adalah ulama-ulama besar diantaranya:
1. Burhanuddin Ali bin Abu Bakar Al Marghinani, pengarang Al-Hidayah, sebuah kitab fiqih rujukan utama dalam mazhab Hanafi. Beliau wafat tahun 593 H/ 1197 M.
2. Ruknul Islam Muhammad bin Abu Bakar, populer dengan gelar Khowahir Zadeh atau Imam Zadeh. Seorang pujangga sekaligus penyair bermazhab Hanafi. pernah menjadi mufti Bochara. Wafat tahun 573 H/ 1177 M.
3. Syaikh Hamdan bin Ibrahim, seorang ulama’ ahli Fiqih bermazhab Hanafi, sastrawan, sastrawan dan ahli kalam. Wafat tahun 576 H/ 1180 M.
4. Syaikh Fakhruddin Al Kasyani, atau Abu BAkar bin Mas’ud Al Kasyani, ulama ahli fiqih bermazhab Hanafi, pengarang Bada-i ‘us Shana-i. Wafat tahun 587 H/ 1191 M
5. Syaikh Fakhruddin Qadli Khan Al Ouzjandi, mujtahid mazhab Hanafi, seorang pengarag kitab. Wafat tahun 592 H/ 1196 M.
6. Ruknuddin Al Farghani yang digelari Al Adib Al Mukhtar (sastrawan pujangga pilihan), ulama ahli fiqih bermazhab Hanafi, pujangga sekaligus penyair. Wafat tahun 594 H/ 1198 M.

Dari guru-guru beliau inilah beliau dikenal sebagai ulama ahli fiqih bermazhab Hanafi dan menekuni bidang pendidikan. Plessner menambahkan, sebagai filsuf Arab. Kitab Ta’limul Muta’allim inilah satu-satunya karya beliau yang sampai pada zaman ini.
Mukaddimah
Kitab ini diawali oleh pujian kepada Allah dan Shalawat terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam. Disusun oleh Syeikh Az Zarnuji karena melihat fenomena yang terjadi pada penuntut ilmu di jamannya. Banyak yang tidak dapat menggapai manfaat dari ilmu karena salah jalan dan mengabaikan persyaratan. Segala sesuatu yang disampaikan di dalam kitab ini berdasarkan segala hal yang beliau dapatkan dari buku-buku maupun dari guru-guru beliau. Kitab ini terdiri atas 13 fasal:
1. Pengertian Ilmu, Fiqih, dan Keutamaannya.
2. Niat dalam Belajar
3. Memilih Ilmu, Guru, Teman, dan tentang Ketabahan.
4. Penghormatan terhadap Ilmu dan Ulama’
5. Ketekunan, Kontinyuitas, dan Minat
6. Permulaan Belajar, Kuantitas, dan Tata Tertib Belajar
7. Tawakkal
8. Waktu Keberhasilan
9. Kasih Sayang dan Nasehat
10. Istifadah (Perjuangan)
11. Wara’
12. Penyebab Hafal dan Penyebab Lupa
13. Sumber dan Penghambat Rezeki, Penambah dan Pemotong Usia

Kitab ini diajarkan pada semester awal di RT Humaira 3
oleh Ustadz Talqis Nurdianto, Lc. M.A.
Ketua Jurusan Bahasa Arab UMY
Catatan ini diringkas dari kuliah dan buku
Disusun oleh Drs. H. Aliy As’ad, M.M. 2007. Terjemah Ta’limul Muta’allim. Kudus: Menara Kudus
(22.02.2015)