kajian, Liputan, refleksi diri, slice of life

Menjaga Kerinduan

Sebuah resume kajian pada ramadhan 1436 H

 

Bila Ramadhan hanyalah sebuah momentum. Ia datang setahun sekali membawa banyak lowongan kebaikan, membawa banyak berkah. Ia datang setahun sekali membawa perintah puasa. Ia datang setahun sekali membawa diskon besar-besaran, liburan panjang, dan bonus THR spesial. Sungguh momentum yang sangat istimewa. Ia memang bukan waktu satu-satunya waktu untuk melakukan perubahan. Akan tetapi, memenuhi hari dengan perubahan kebaikan adalah satu-satunya hal yang harus dilakukan di dalamnya.

 

Sudahkah ada target yang harus tercapai?

Sudahkah dituliskan rencana-rencana selama Ramadhan?

Sudahkah harap-harap cemas akan kedatangannya?

 

Agenda yang kadang terlalu padat atau malah terlalu luang, kadang melenakan. Ada banyak alasan yang dibuat atas kealpaan-kealpaan yang kerap menyambangi. Apakah sudah cukup berusaha untuk menghilangkan resah di hati? Kadang ada begitu banyak tanya yang kita mencukupkan diri untuk mencari jawabannya. Kadang ada sayatan yang bertambah ketika men-dzalim-i orang lain, dan abaikan saja. Kadang ada dongkol yang terus subur melihat kebahagiaan orang lain. Astaghfirullahal’adziim….

 

Begitulah mungkin yang terjadi ketika akal, hati dan jiwa melakukan tugas yang tidak semestinya. Misalkan untuk makan, cukup tugas untuk akal. Menghafal dan memahami itu tugas hati, dan tugas jiwa adalah ketika mendengar kalamullah. Jika telah sampai tahap jiwa, maka tingkatannya adalah ihsan.

 

Diperlukan jiwa yang kuat agar bisa mencapai tingkatan tersebut. Jiwa sendiri merupakan sosok yang pernah dekat dengan Allah dan berasal dari-Nya sehingga bisa diartikan bahwa jiwa adalah penghubung manusia dengan Allah dan alam akhirat. Jika jiwa diibaratkan ponsel dan yang membuat hubungan lancar adalah daya baterai dan pulsa maka daya tersebut dapat diperoleh dengan terus menabung kebaikan sehingga sinyalnya menjadi kuat.

 

Lalu, bagaimana dengan jiwa yang tidak bisa terhubung? Mungkin pulsanya habis dan sinyal hilang. Maka dari itu perlu di-charge berulang-ulang agar mempunyai cadangan yang tidak pernah habis. Momen itu telah Allah sediakan gratis plus plus bonus yaitu bulan Ramadhan.

 

Kebaikan yang diperlukan jiwa, utamanya tauhidullah. Shalat dan membaca Alquran adalah asupan untuk hati. Sedangkan jiwa adalah cinta kepada akhirat (hubbul akhiroh) dalam surah Al-A’rof telah disebutkan, Qoolu balaa syahidna…. Dan dalam bulan Ramadhan insya Allah adalah momentum yang pas untuk camp training.

 

Rasulullahﷺ Dalam hadits Qudsi bersabda: “Fainnahu lii, wa ana ajrihi bih … Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.”

 

Menjaga kerinduan akhirnya bukan sekadar ucapan dengan strategi sempurna di atas kertas. Bukan pula ke-alay-an hati dalam ber-baper-ria, bukan pula menolak segala yang ada dan diam. Menjaga kerinduan berarti berjuang. Terus meminta terus meminta terus meminta… agar sang pemilik rindu itu menjaga rindu kita. Dan mendekatkannya, memudahkannya. Bismillahirrahmanirrahim.

 

Semangat perubahan! Semangat menyongsong Ramadhan! Semangat menjaga kerinduan! Sudahkah kau siap, menyambut datangnya tamu yang penuh berkah? Sebentar lagi… sebentar lagi…

kajian

Tujuan Hidup; Aku Seorang Muslim

seharusnya catatan sebuah kajian

 

Anak-anak sangat menyukai kisah-kisah epik. Tentang kekesatriaan dalam peperangan, aksi heroik dalam sebuah pengorbanan, atau pun mati karena mempertahankan harga diri dan tanah pertiwi. Itu semua baginya hanya kisah yang dikaguminya. Ketika ingatan masa kecil itu hanya berlalu samar-samar, dan ia hanya mengaku-aku mencintainya. Tak ada lagi di jaman ini figure baginya. Mungkin kurang tepat juga, karena ia sedang terisolasi pada sebuah wilayah yang hijau, yang makmur namun kebahagiaan itu semu. Mereka semua hanyalah manusia-manusia dalam layar kaca. Hidup dalam sandiwara melihat tayangan penuh kata-kata. Omong kosong.

Hari itu ia tengah berlari menyongsong hidupnya. Terengah-engah kecapekan, pikirannya jadi buntung. Untuk apa ia berlari dan mendapatkan semua ini. Bukankah setelah ini ia mati dan meninggalkannya?

Hidup di dunia ini bukan tidak selamanya. Allah ciptakan manusia tanpa sia-sia. Siapa bilang manusia tidak mungkin jadi baik? Siapa bilang perbuatan baik hanya untuk orang baik? Allah akan merubah suatu kaum jika kaum itu berniat merubahnya. Allah akan tinggikan derajat manusia sesuai dengan cita-citanya. Seperti kata Allah jua, Ia akan berikan apa yang hambanya inginkan. Anak itu mendesah, apa yang ia inginkan sebenarnya setelah tahu tentang ini begitu banyak. Terlalu banyak tawaran menggiurkan, ia sampai bingung akan meminta apa. Ataukah kini ia menjadi manusia-manusia instan yang diberi jadi tanpa perlu meminta. Malas bergerak, malas berucap, malas berpikir. Ah.

Sekarang tatapannya menatap sebuah tayangan, dari youtube? Tulisan bertekstur itu berkelebat satu persatu dengan gambar-gambar sampai menunjukkan seorang pria berbahasa Arab tengah berada di daratan China. Layar berganti menjadi sebuah pesantren kungfu anak-anak. Kamar tidur saat sebelum fajar sudah rapi bak hotel. Bahu-membahu mereka bersih-bersih asrama, ngepel, nyapu, dll. Lalu segera berkumpul ke lapangan dan berlatih kungfu. Ada sekitar 10.000 berbaris rapi tanpa ada yang berniat kabur atau melemahkan diri. Semua bersungguh-sungguh dan patuh. Kata sang pelatih, kungfu adalah pelatihan untuk menjadi tentara Tiongkok. Mereka belajar tentang kekuatan, pengorbanan, kedisiplinan, menang dengan maksimal, dan menerima kekalahan dengan sportif. Sedangkan tujuannya sendiri adalah untuk membentuk jiwa-jiwa yang tangguh. Militan.

Ganti file, sekarang tayangan menggambarkan Turki. Ada anak-anak usia-usia SD awal duduk di kursi DPR, pemerintahan, walikota, atau rektor. Mereka bukan hanya duduk-duduk, mendengarkan simulasi main-main. Tapi mereka belajar secara nyata, menjadi pemimpin sesungguhnya. Sehari. Bertemu klien, rapat, mengurusi masalah rakyat, dilakukan mereka. Mereka punya visi-misi mereka sendiri dan memaparkannya. Menjelaskan plan-plan lembaga mereka pada orang dewasa. Telah fasih lidah mereka.

Memang apa yang tidak mungkin bagi manusia? Selama ia punya Allah. Meskipun kisah Al-Fatih sendiri masih nampak bagai dongeng-dongeng pengantar tidur. Ia khatam menghafal Alquran di usianya yang ketujuh. Usia sembilan lidahnya mahir dalam 6 bahasa. Usia 14 menjadi walikota. Di usia 21 jadi panglima perang dan pada tahun ke 24 ia berhasil mewujudkan hadits Rasulullah saw. menaklukan kota Konstantinopel. Apa yang mustahil? Kaum muslimin sejak dulu bertempur dengan jumlah jauh di bawah musuhnya. Tak ada jurus-jurus khusus, trik-trik bermain pedang, atau latihan militer tambahan. Namun kemenangan demi kemenangan terus berjaya. Itu dulu. Beda dengan sekarang. Anak itu tercenung.

Lalu tersentak. “Setelah melalui proses penelitian yang panjang, bahwa yang membuat kaum muslimin dulu militan adalah dengan sebuah proses.” Tau militansi ‘kan? Tangguh itu lho. Di dunia ini pillihannya cuma satu jadi penguasa atau tewas sia-sia. Dan syarat menjadi penguasa itu kuat dan tangguh terhadap musuh. Sesungguhnya Ramadhan adalah momen yang pas untuk membentuk militansi tersebut. Militansi itu nantinya dalam ilmu dan fisik. Telah disebutkan dalam Al Baqarah ayat 247. Dan caranya tertera pada ayat sebelumnya, 185 – 186: banyak membaca Alquran dan memanjangkan shalat malam (khatam).

Ada banyak contoh sahabat yang mengkhatamkan Alquran dalam waktu singkat salah satunya imam Syafii yang mengkhatamkan 60x dalam bulan Ramadhan. Bagi orang era sekarang yang hidup dalam dunia kapitalis sepertinya agak susah ya. Kerjaan padat, rutinitas berbeda, de el el. Berarti yang yang harus ditingkatkan adalah mujahadah atau perjuangan. Jika ingin menjadi muslim yang kuat berarti harus siap berkorban. Berkorban capek, ngantuk, sakit, atau bahkan mati.

Manfaat berdiri panjang dalam shalat qiyammul lail:

  1. Menyembuhkan penyakit kronis
  2. Meningkatkan kecerdasan 10x lipat
  3. Menguatkan badan.

Orang muslim dulu yang dipilih menjadi panglima perang adalah orang yang kuat shalat malamnya dan kontinu. Begitu pun tentara-tentaranya. Sehingga tidak heran, dengan iming-iming seorang mukmin yang kuat itu bisa mengalahkan dua puluh orang kafir. Wallahua’lam bishshawwab.


Ustadz Syihabuddin AM (mudir Ma’had Tahfizhul Qur’an Isy Karima, Karanganyar) dalam sebuah tarhib bulan penuh perhelatan

Fiksi

Lonceng Angin

Cast: Taaz dan Liszy

Angin berhembus keras, sedikit menggoyangkan sepasang kaki yang terjuntai bebas. Sementara setengahnya tertahan oleh dinding beton, tepat di bawah angkasa jauh dari bumi. Siluetnya tegak menghadap menara-menara yang bermandikan cahaya lampu. Dari kejauhan terlihat seperti kumpulan pendar bintang di antara langit malam. Menyamarkan parasnya yang menatap tajam.

Anak laki-laki itu terdiam begitu lama. Ia bisa merasakan begitu banyak cahaya, tapi baginya gelap. Hari itu sungguh gelap. Ada berapa banyak kesalahan yang telah ia buat? Sehingga segala kegelapan kini menyesakkan dadanya.

Lampu yang berpendar terlalu ramai. Lautan manusia di jalanan terlalu terang. Taaz tak mengerti. Semuanya menjadi bising. Suara-suara bercampur jadi satu, melemparkannya kesana-kemari di lautan kegelapan. Bahkan angin yang biasa ia berkawan, seolah membencinya. Ia tak mampu lagi membaca gerak bibirnya.

Di tempat yang teramat lapang ini, ia mengasingkan diri. Mencoba mendengar dengan lantang. Persis di tempat kuasanya. Angin. Desau-mendesau, Taaz mulai kedinginan. Ia masih tak mendengar apapun. Kepalanya pusing. Makin ruwet. Belum pernah ia sesedih ini berada dalam kegelapan.

Biasanya ia akan mendengarkan lonceng angin. Tapi di sini tak ada. Rumahnya jauh. Taaz sedih. Tidak ada teman. Toh, ia memang tidak punya teman. Apalagi setelah kejadian tadi pagi. Kejadian yang terlalu berkesan, hingga ia bingung.

Taaz ingin pulang tapi tak bisa. Tak ada angin yang menunjukinya. Tiba-tiba suara tapak kaki bergema. Terlalu keras. Terlalu cepat. Taaz menutup telinga, kesakitan. Ia limbung, hampir bebas. namun sebuah tangan menahannya cepat. Suara familiar di dengarnya menjadikan seluruhnya hening agar bisa terfokus pada suara itu.

“Taaz, apakah kau baik-baik saja? Aku mencarimu ke mana-mana.” khawatir. “Untung ada Liz, membantuku. Kau kenal dia kan? Adik dari Kak Fezt.”

Taaz menolehkan kepalanya. Matanya yang kosong menatap sesosok gadis kecil, mungkin sedikit lebih tua. Meskipun Taaz masih diliputi kegelapan, ia bisa melihat angin berbisik samar bahwa Liz tersenyum lega. “Hai, salam kenal Taaaz.”

tamat (10.06.15)

slice of life

Ketiduran

Capek. Kau benar-benar capek. Setelah seharian yang lalu nglaju Madiun-Yogyakarta berkendara mobil besar beroda empat. Berjalan kaki pulang di bawah kerlap-kerlip lampu jalanan. Setelah kau puaskan perut dengan sekotak mie aceh, tak lantas kau tidur. Bibir yang masih berbelah dua masih saja bergerak memuaskan hasratnya. Mumpung ada teman, batinmu waktu itu. Sementara waktu bergulir maju, dan kau mengetahui, besok masih ada yang harus ditandai.

Deretan pesan yang tak pernah habis seakan memakan seluruh daya baterai dan kecepatan ponselmu. Kesal, akhirnya kau putuskan menyerah. Pagi sudah terlalu terang. Kau sudah berjalan-jalan lagi. Namun, saat pulang, kau seperti menemukan tempat kembali. Kasur.

Awalnya memang mengindahkan, “Jangan lupa lho, nanti jaga stan, nanti rapat, nanti piket, lalalala … “ namun akhirnya mata yang setengah terpejam itu tak lagi dapat berpikir jernih. Seolah putus segala kontak dan rangsangan. Kau lelap. Tak lagi bisa mendengar panggilan-panggilan dari luar sana yang dibawa oleh semilir angin, yang makin meninabobokan.

Sauh sudah dibuang. Layar dikembangkan. Dan kau pun berlayar dengan kecepatan penuh ke samudera impian. Ada Rikkun, rumah besar, dan banyak lagi. Kau suka dengan semuanya. Semakin menjauhkanmu dari alam nyata. “Sebentar, kasurku merindukanku,” hanya sebuah alibi samar-samar.

Kau terlalu memanjakan tubuhmu yang katanya otot kawat balung wesi itu. Melembekkannya dengan tidur yang tak kira-kira. Smartphone di sampingmu masih terus berdering, memanggil-manggil. Matahari tergelincir, meninggalkan bualan-bualalan yang terpelintir. Tapi kau belum sadar jua.

Khalifah Umar tersentak bangun

Mendapati anaknya bertanya,

‘Ayah, kenapa engkau beristirahat

saat engkau tak bisa menjamin

akan dapat bangun dan menunaikan amanah lagi?’

 

Demi masa

Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali:

Mereka yang beriman,

Senantiasa beramal shaleh,

Dan saling nasehat-menasehati untuk senantiasa menetapi

Kesabaran dan kebenaran

Lampu kamar menyala karena suasana sekitar mulai gelap. Membuatmu terlonjak bangun. Adzan berkumandang. Hayya ‘alash sholah. Sebentar lagi Ramadhan datang. Apa yang sudah disiapkan?

slice of life

Alasan

Ia kini berlari-lari kepayahan. Tangannya tak lagi menggenggam sebatang pena dan selembar kertas. Namun punggungnya memanggul laptop dan charger. Namun semuanya sama saja. Kosong. Lembar virtual bernama microsoft word itu hingga kini masih kosong. Tangan masih mengawang ketika otak yang merupakan pusat segala perintah buntu. Menolak segala keinginan tangan. Tak ada. Tak ada yang harus dituliskan. Tak usah. tapi tangan ternyata teramat rindu pada barisan kata-kata yang tersusun. Entah. Rapi atau yang terpenting berdiri. Tegap. Takut. Rupanya otak juga menjadi pengecut. Ia terlalu peduli pada kata-kata. Ia terlalu terpaku pada sempurna dan komitmen yang bersanding. Oke, ia pernah mendengar, tentang kata komitmen dari seseorang yang dihormatinya: tidak akan meninggalkan sesuatu yang sudah “di-komitmen-i” dalam hal perbuatan dan ucapan. Sedangkan kata sempurna menurut KBBI adalah 1afdal, akmal, cukup, genap, jangkap, kafi, kamal, kamil, komplet, lengkap, paripurna, sidi, tamam, utuh, ideal, perfek, prima, transenden, utama; 2beres,selesai, tuntas.
Oh, berat. Memang berat sekali. Ketika standar sebuah kesempurnaan bersifat relatif dan memberikan sebuah penyelesaian perlu treatmen khusus. Pernah dia baca melalui inbox mail-nya, membuat sebuah penyelesaian seperti halnya menidurkan anak kecil. You can’t doing abruptly!
Dan ia bersanding dengan kata komitmen. Ah, otak.
Kenapa kau hanya terpaku pada kedua kata itu? Padahal pada tangan yang jemarinya berbuah kata kadang-kadang, dia (hanya) kenal rindu dan yang lainnya. Tak ada yang mampu pecahkan konsentrasi akal ‘pabila ia telah terpaku. Terlalu hening jua. Lalu pecah ketika sebuah lantunan merdu itu menyusup memecah gendang telinga. Memaksa otak bekerja ketika hantaran impuls meraba.
Iqra bismirobbbikal ladzi kholaq… kholaqol insaana min alaq… iqra’ wa robbukal akrom…alladzi ‘allama bil qolam….. Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah dan Rabb-mulah yang paling pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.
Akhirnya ia tersentak. Berpikir-pikir lagi. Ayat yang dibacanya, didengar artinya, sering namun mungkin ia tak jua memahami. Bacalah dan Rabb-mulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Sudah berapa banyakkah ia membaca buku saat ini? Sudahkah
ia belajar hari ini? Membaca adalah amunisi. Dan buku-buku terbaik adalah bergizi. Sedangkan menulis berarti mengikat ilmu. Ilmu dari siapa? Dari orang yang berilmu. Sedangkan dia? Pelajar memang labelnya. Namun, belajar saja malas. Dari mana dia bisa disebut orang berilmu apalagi menulis ilmu. Dan pada titik ini ia benar-benar bingung.
Pena dan kertas telah ia tinggalkan. Laptop dan charger hampir saja ia buang. Lalu apa yang bisa ia lakukan setelah ini? Mungkin ia terlalu banyak beralasan tentang komitmen tentang kesempurnaan.
Apa yang bisa dicapai jika tak melalukan apa-apa? Sepertinya telah terjadi miskomunikasi di sini. Kata ustadz Syatori kemarin antara hati dan akal masing-masing harus melakukan tugasnya. Dengan akal manusia berpikir dan dengan hati bisa memahami. Kerja-kerja mana yang harus menggunakan akal mana pekerjaan yang menggunakan hati? Mungkin harus dipetakan dulu, porsi masing masing.
Seperti halnya ketika menulis. Tak bisa dinafikkan
salah satunya. Tetap berusaha sinkronisasi.
Biar ketika jemari menumpahkan rindunya, akal yang
berpikir. Hati jangan ikut-ikutan. Meski kadang masih tersimpan ego yang membuncah. Cukup berikan sentuhan agar hasil tulisan tak menjadi dangkal. Dan itu memang susah. Susah yang menjadi gampang apabila diasah dan dibiasakan. Yep.
Makanya perlu komitmen. Ia terkekeh mengingat kata
itu. Hanya perlu komitmen. Standar sempurna biarlah tulisan itu dinilai oleh hati masing-masing.
Di atas kertas virtual itu kini terketik. Shiori Sophi. Yang berkomitmen menuliskan nikmat-Nya melalui tenunan kata-kata … fabiayyi ala irobbikuma tukadzdzibaan
slice of life

Random Juni

Bermula dari Event yang diadakan oleh NulisBuku.com waktu itu saya memutuskan untuk mencobanya bersama Unni tercinta. Jadilah project pertama kami mengisi folder-folder di dropbox: Random Juni.

Membiasakan menulis itu memang butuh usaha yang ekstra. Bertahun-tahun mencoba komitmen tapi ternyata belum juga. Ramadhan tahun ini, kesempatan itu datang. Alhamdulillah ada teman. Setidaknya ada yang menjaga. Kalau sendirian, gampang banget kedistrak. Apalagi momennya Ramadhan. Banyak kegiatan. Target ibadah pun tak bisa dikesampingkan.

So, Thanks to Allah and my dearest unni Febri who kept me on track. I wish there’s another second, third, and so forth like in next moment. Dunno with whom *smirk*

Meskipun masih banyak yang harus dievaluasi, tersengal-sengal ngutang akhirnya selesai juga. Jika kemarin tiada keberanian untuk memublikasikan mungkin kali ini akan mencoba dibagikan. Tidak semua, sih, hehe.

Setidaknya selamat membaca #latepost #NovemberasaJuni #RandomJuni2015

KEEP WRITING, ALL!!!

slice of life

Cuacanya Random

Udara terlampau panas. Ann melepas baju luarnya saat mereka baru saja tiba. Menyisakan hanya korset dan rok renda selutut. Tak dipedulikannya Sam yang masih berbaju rapi—hem putih dengan dalaman t-shirt, dan celana khaki—. Mereka akan melakukan workshop masakan Indonesia di rumah mas Indra. Siapa sangka masakan itu adalah barbeque ala Indonesia alias sate? Kata mas Indra yang bikin khas itu bumbunya yang menggunakan lime kafein (?) dan kacang ulek plus sambal kecap dengan bawang-bawangan.

Tutorial yang membosankan mungkin akan segera diganti segera. Tiga jam lebih tersiksa dengan kosakata, tata bahasa, juga percakapan sekarang mereka bersenang-senang. Padahal wajah para tutor berkerut masam sambil nge-bathin ‘Sampai jam berapa ?’

Toh, mereka akhirnya tertawa-tawa. Berkeliling pendopo yang tidak mirip pendopo sama sekali. Sambil menggenggam janur yang sudah diserut-serut oleh Jacob yang kebingungan. Sate sudah dibumbui dan ditusuk. Ia sudah cuci tangan tapi masih saja helaian janur meluncur mulus dari jari-jemarinya. Banyak yang telah gugur. “I’m give up.” Kata Rebecca. Disusul Ann, lalu Frank yang nimbrung bersama Wyatt akhirnya di tempat bebakaran. Wajahnya memerah kepanasan. Bara mengepul-kepul. Kyllie begitu persisten dengan mbak Wanda yang membantunya mewujudkan sebuah ketupat. Jari-jemari Wardah mulai frustasi memerhatikan Winona yang tidak bisa-bisa. “Rumit.” Katanya. Entah salah siapa. Para tutor malah ngobrol sendiri sampai satenya matang. Dan kemudian datanglah serenteng ketupat. Padahal punya Kyllie yang baru jadi belum terisi beras sama sekali.

Tetap saja, akhirnya Kyllie yang menerima penghargaan atas tangannya dan juga kata-katanya, “I’m understand the theory but, not for the practice.” Sate ayam besar-besar dan ketupat entah darimana, dia jadi yang pertama. Aku tak berselera saat semuanya bilang enak. Sebenarnya asam lambungku mulai bereaksi saat satu gigitan ayam meluncur mulus melalui kerongkongan. Biar bohong sedikit. Kontrol tetap di mulut. Langit sudah mulai menggelap.

…jam 2 sampai jam 4. Tanganku sibuk mencoret-coret tugas life plan. Frank hanya memakai kaos tipis menghampiri Wardah di dekatku. Menyuruh-nyuruh makan tapi tak mau. Kenyang. Kita malah ngobrol. Tentang muslim, dan atau katolik. Mereka, Frank seorang Katolik juga melakukan ritual bakar-bakar janur kemudian abunya dioleh di kening membentuk tanda salib. Holy week, itu yang aku baca di wikipedia. Mereka melakukannya sebelum Paskah. Sebagai bentuk identitas tanda itu tak boleh dihapus seharian.
Saat melihat teman-teman muslimnya di kampus beribadah, “I wanna like that. Praying when sunrise.” Terharu kata dia. Aku iya-iya saja, padahal kemudian berpikir sejak kapan umat muslim menyembah sunrise? Bukankah diantara sebelum waktu-waktu itu?

Frank lucu. Gestur dan mimik wajahnya sangat ekspresif. Begitupula ketika bertanya tentang populasi muslim di Indonesia. Gelagapan aku sudah lama tak baca berita. “Berapa jumlah yang berhijab dibanding yang tidak?” seketika aku sadar akan hawa panas lagi. Udara yang mengalir tiba-tiba berhenti. Terpaksa atau tidak aku menaikkan sedikit kain yang menjuntai ke dada. Kipas-kipas. Frank nyengir menunggu jawaban. Wardah menatapku. Aku hanya geleng-geleng sambil angkat bahu. “Mungkiiin, banyak. Karena jilbab sekarang jadi tren fashion ya?”
Kemudian Frank bercerita lagi tentang temuannya di Batam. Muslim di sana. Dan ia ambil air mineral lagi untuk kesekian kalinya.
Angin malam mulai semilir. Rebecca susah payah disuruh berbaju lagi. Di depannya aku ngebut. Menerbangkan keringat-keringat di baju yang menempel lebih dari kutu. Bau.

(catatan lama: random Juni 2015)