refleksi diri, slice of life

[Giveaway] 20 Bookish Facts about Me

 

  1. Tidak ada jatah khusus bulanan untuk beli buku tapi selalu menyediakan jatah kapan saja ketika pingin beli buku.
  2. Orang yang paling berjasa membuat saya cinta buku itu ibu.
  3. Tidak menyukai ebook tapi tetap membacanya di PC kalau kepepet tidak bisa mencetaknya.
  4. Buku bacaan rutin waktu SD yang saya ingat itu majalah Horison dan buku novel klasik Indonesia yang dipinjamkan ibu di perpustakaan SMAnya.
  5. Tidak bermasalah dengan jenis buku namun lebih pemilih masalah konten.
  6. Kadang-kadang suka menimbun buku lalu malas membacanya. Belanja buku lebih menggiurkan dari pada shopping baju, sepatu, atau yang lainnya.
  7. Tidak bisa membaca genre roman yang akhirnya tragedy atau bad-ending.
  8. Sangat menyukai fiksi. Sangat suka buku cerita bergambar (terutama manga, komik, dan pictoral book).
  9. Ingin mempunyai perpustakaan sendiri namun nyatanya, bukunya tersebar dimana-mana (literally, di beberapa kota di bangunan-bangunan yang berbeda).
  10. Bisa membaca buku di mana-saja atau kapan saja sampai lupa sekeliling.
  11. Buku tebal itu enak buat bantal dan memperbaiki kepegelan leher saat tidur.
  12. Sebagian besar buku diberi nama dua orang: saya dan adik. Lalu menjadi tiga orang karena ada adik baru, hihi.
  13. Kalau pindahan, barang terbanyak adalah buku. Sisanya baju sama arsip. Udah.
  14. Jarang bisa benar-benar menyelesaikan buku non-fiksi. Seringnya membaca memindai T-T.
  15. Fiksi terjemahan lebih banyak dibaca daripada lokal akhir-akhir ini.
  16. Buku itu barang wajib kalau mau pergi-pergi. Buku, notes, dan pensil. Sepaket.
  17. Suka (banget) kalau ada orang yang pinjam buku. Boleh lamaaa. Asal kembali tepat saat dibutuhkan.
  18. Pertama kali baca novel tebel di toko buku itu novelnya Roberth Galbraith-The Cuckoo’s Calling/ Dekut Burung Kukuk terus keterusan deh sampai buku Cormoran berikutnya, The Silkworm. Bener-bener dibaca dari awal sampai akhir, tapi metode ini tidak bisa dibaca sekali duduk karena ternyata malu >////< dan kadang tergusur dari tempat yang pewe. Perlu trik khusus kayaknya biar enjoy baca.
  19. Bukan tipe orang yang apdet sama buku-buku baru. Beli buku hanya atas rekomendasi, survey dulu, atau memang tiba-tiba kepincut pada pandangan pertama (biasanya jarang). Wishlist-nya kebanyakan wishlist lamaa yang numpuk karena bukunya nggak nemu-nemu entah karena emang susah dicari, atau memang tidak terbit lagi.
  20. Sedang berproses dalam mencintai sebuah buku untuk selama-lamanya: (mushaf) Alquran.
20-bookish-facts
#20BookishFactsAboutMeGA
Liputan

Situs Menulis

Well, ini memang masih tahun baru. Silakan bagi yang merayakan tapi kadang-kadang suara kembang api menakuti saya tengah malam meskipun view-nya melankolis. Suer. Mendingan disetelin aja murottal malem-malem *dibekep*

Selagi masih awal-awal tahun, mau nulis lagi nih. Jika terlalu lama absen, nanti saya harus mulai lagi dari nol, emoh. Meskipun WB dan badmood sering mengacaukannya, saya tidak akan patah semangat. Yep, diputuskan itulah resolusi tahun baru saya. Apa resolusi tahun barumu?

Kembali ke topik yah. Bagi seorang penulis, (meskipun cuma nulis diary), tempat menulis itu sesuatu yang penting. Tempat yang mendorong penulis menuliskan idenya dengan bebas dan menuangkan gagasan dengan nyaman kadang menjadi suatu kebutuhan. Apalagi kalau di sana ada teman yang saling menyemangati, hmm senangnya….

Kali ini saya akan membahas beberapa laman menulis yang mungkin bisa menemanimu debut sebagai penulis nanti. amiin. Saya doakan, deh (saya mah tetep jadi penulis diary ajah).

  1. Storial.costoriallogo

Platform nulis baru yang dibikin oleh nulisbuku.com. Buat yang ingin menerbitkan buku mungkin di sini nih tempat yang cocok.

Meskipun masih baru, fiturnya lumayan lengkap. Desainnya mirip-mirip kalau mau nerbitin buku indie gitu. Ada menu rak pribadi, tempat menyimpan buku-buku favorit yang ingin kamu baca atau menu buku saya, tempat kamu menerbitkan buku. Pokoknya atmosfernya kayak penulis profesional gitu dah. Ada macam-macam kategori juga dari novel, cerpen, puisi, hingga fanfiksi dan skrip film juga ada lho. Plus di sana kamu bisa dapet info event-event menarik dari nulis buku dkk.
2. Kemudian.com

kemudian
Menulis seasyik main game. Yep, di sini nggak perlu takut nulis dan nggak selesai karena setiap penulis bisa melanjutkan tulisan penulis lainnya. Kalian akan dapet banyak teman plus masukan di sini karena ada sistem poin yang akan bertambah jika kalian menulis komentar di cerita orang lain dan berkurang jika posting cerita.

Oh ya setiap dua tahun anak-anak komunitas kemudian mengadakan BOR alias Battle of Realms lho yang terbuka untuk umum.

3. Fanfiction.net

FanFictionNetlogo
Laman ini mungkin cikal bakal komunitas penulis fanfiksi/ fiksi penggemar di indonesia alias INFANTRUM (Indonesian Fanfiction Forum). Dan tiap taunnya diadakan IFA (Indonesian Fanfiction Awards) dari sesepuh-sesepuh bagi fanfiksi yang masuk nominasi (biasanya sekitar Oktober/ November).

Segala macam jenis penulis dan cerita bisa ditemukan  di sini tapi tentu saja semuanya merupakan fiksi penggemar. Untuk rate di sini paling banyak yaitu M alias mature, secara pengertian yaitu untuk pembaca 16 tahun ke atas berisi konten non eksplisit materi dewasa, kekerasan, dan kata kasar yang ekstrim (dari kamus istilah perfanfiksian Indonesia). Well, tapi jangan terkejut lho kalo menemukan yang out of border hehe.

Anyway di sini lumayan rame lho, terutama di fandom-fandom tertentu. Happy writing and get along well.

Laman Facebook: Fanfiction.net World

4. Gramedia Writing Project

gwp

Hmm saya nggak bisa komen banyak sih karena belum bener-bener nyemplung ke sana. Pokoknya di sana adalah ruang menulis yang berkesempatan dilirik oleh editor-editor Gramedia. Pada mulanya GWP ini untuk seleksi penulis-penulis berbakat yang dilakukan secara tertutup namun selanjutnya, platform ini dibuka untuk umum agar bisa mendapatkan lebih banyak bibit unggul. Yuk mari-mari. Let them notice your talent!

5. Wattpad

wattyy

Mirip-mirip kayak storial. Disini kamu bisa menyusun ceritamu seperti novel dan lain-lain serta mengaturnya sesuai preferensi pribadi.
Dan masih banyak lainnya. Semisal Fictionpress.com sister-nya fanfiction.net, AO3 atau Archive of Our Own, dan masih banyak lagi (Kalau kalian tahu yang lain bisa ditambahkan di kolom komentar ya). Mungkin blogmu atau bahkan dropbox, apapun bisa asalkan membantumu lebih produktif untuk menulis.

So, enjoy and keep writing^^

 

 

kajian

Tujuan Hidup; Aku Seorang Muslim

seharusnya catatan sebuah kajian

 

Anak-anak sangat menyukai kisah-kisah epik. Tentang kekesatriaan dalam peperangan, aksi heroik dalam sebuah pengorbanan, atau pun mati karena mempertahankan harga diri dan tanah pertiwi. Itu semua baginya hanya kisah yang dikaguminya. Ketika ingatan masa kecil itu hanya berlalu samar-samar, dan ia hanya mengaku-aku mencintainya. Tak ada lagi di jaman ini figure baginya. Mungkin kurang tepat juga, karena ia sedang terisolasi pada sebuah wilayah yang hijau, yang makmur namun kebahagiaan itu semu. Mereka semua hanyalah manusia-manusia dalam layar kaca. Hidup dalam sandiwara melihat tayangan penuh kata-kata. Omong kosong.

Hari itu ia tengah berlari menyongsong hidupnya. Terengah-engah kecapekan, pikirannya jadi buntung. Untuk apa ia berlari dan mendapatkan semua ini. Bukankah setelah ini ia mati dan meninggalkannya?

Hidup di dunia ini bukan tidak selamanya. Allah ciptakan manusia tanpa sia-sia. Siapa bilang manusia tidak mungkin jadi baik? Siapa bilang perbuatan baik hanya untuk orang baik? Allah akan merubah suatu kaum jika kaum itu berniat merubahnya. Allah akan tinggikan derajat manusia sesuai dengan cita-citanya. Seperti kata Allah jua, Ia akan berikan apa yang hambanya inginkan. Anak itu mendesah, apa yang ia inginkan sebenarnya setelah tahu tentang ini begitu banyak. Terlalu banyak tawaran menggiurkan, ia sampai bingung akan meminta apa. Ataukah kini ia menjadi manusia-manusia instan yang diberi jadi tanpa perlu meminta. Malas bergerak, malas berucap, malas berpikir. Ah.

Sekarang tatapannya menatap sebuah tayangan, dari youtube? Tulisan bertekstur itu berkelebat satu persatu dengan gambar-gambar sampai menunjukkan seorang pria berbahasa Arab tengah berada di daratan China. Layar berganti menjadi sebuah pesantren kungfu anak-anak. Kamar tidur saat sebelum fajar sudah rapi bak hotel. Bahu-membahu mereka bersih-bersih asrama, ngepel, nyapu, dll. Lalu segera berkumpul ke lapangan dan berlatih kungfu. Ada sekitar 10.000 berbaris rapi tanpa ada yang berniat kabur atau melemahkan diri. Semua bersungguh-sungguh dan patuh. Kata sang pelatih, kungfu adalah pelatihan untuk menjadi tentara Tiongkok. Mereka belajar tentang kekuatan, pengorbanan, kedisiplinan, menang dengan maksimal, dan menerima kekalahan dengan sportif. Sedangkan tujuannya sendiri adalah untuk membentuk jiwa-jiwa yang tangguh. Militan.

Ganti file, sekarang tayangan menggambarkan Turki. Ada anak-anak usia-usia SD awal duduk di kursi DPR, pemerintahan, walikota, atau rektor. Mereka bukan hanya duduk-duduk, mendengarkan simulasi main-main. Tapi mereka belajar secara nyata, menjadi pemimpin sesungguhnya. Sehari. Bertemu klien, rapat, mengurusi masalah rakyat, dilakukan mereka. Mereka punya visi-misi mereka sendiri dan memaparkannya. Menjelaskan plan-plan lembaga mereka pada orang dewasa. Telah fasih lidah mereka.

Memang apa yang tidak mungkin bagi manusia? Selama ia punya Allah. Meskipun kisah Al-Fatih sendiri masih nampak bagai dongeng-dongeng pengantar tidur. Ia khatam menghafal Alquran di usianya yang ketujuh. Usia sembilan lidahnya mahir dalam 6 bahasa. Usia 14 menjadi walikota. Di usia 21 jadi panglima perang dan pada tahun ke 24 ia berhasil mewujudkan hadits Rasulullah saw. menaklukan kota Konstantinopel. Apa yang mustahil? Kaum muslimin sejak dulu bertempur dengan jumlah jauh di bawah musuhnya. Tak ada jurus-jurus khusus, trik-trik bermain pedang, atau latihan militer tambahan. Namun kemenangan demi kemenangan terus berjaya. Itu dulu. Beda dengan sekarang. Anak itu tercenung.

Lalu tersentak. “Setelah melalui proses penelitian yang panjang, bahwa yang membuat kaum muslimin dulu militan adalah dengan sebuah proses.” Tau militansi ‘kan? Tangguh itu lho. Di dunia ini pillihannya cuma satu jadi penguasa atau tewas sia-sia. Dan syarat menjadi penguasa itu kuat dan tangguh terhadap musuh. Sesungguhnya Ramadhan adalah momen yang pas untuk membentuk militansi tersebut. Militansi itu nantinya dalam ilmu dan fisik. Telah disebutkan dalam Al Baqarah ayat 247. Dan caranya tertera pada ayat sebelumnya, 185 – 186: banyak membaca Alquran dan memanjangkan shalat malam (khatam).

Ada banyak contoh sahabat yang mengkhatamkan Alquran dalam waktu singkat salah satunya imam Syafii yang mengkhatamkan 60x dalam bulan Ramadhan. Bagi orang era sekarang yang hidup dalam dunia kapitalis sepertinya agak susah ya. Kerjaan padat, rutinitas berbeda, de el el. Berarti yang yang harus ditingkatkan adalah mujahadah atau perjuangan. Jika ingin menjadi muslim yang kuat berarti harus siap berkorban. Berkorban capek, ngantuk, sakit, atau bahkan mati.

Manfaat berdiri panjang dalam shalat qiyammul lail:

  1. Menyembuhkan penyakit kronis
  2. Meningkatkan kecerdasan 10x lipat
  3. Menguatkan badan.

Orang muslim dulu yang dipilih menjadi panglima perang adalah orang yang kuat shalat malamnya dan kontinu. Begitu pun tentara-tentaranya. Sehingga tidak heran, dengan iming-iming seorang mukmin yang kuat itu bisa mengalahkan dua puluh orang kafir. Wallahua’lam bishshawwab.


Ustadz Syihabuddin AM (mudir Ma’had Tahfizhul Qur’an Isy Karima, Karanganyar) dalam sebuah tarhib bulan penuh perhelatan

Fiksi

Lonceng Angin

Cast: Taaz dan Liszy

Angin berhembus keras, sedikit menggoyangkan sepasang kaki yang terjuntai bebas. Sementara setengahnya tertahan oleh dinding beton, tepat di bawah angkasa jauh dari bumi. Siluetnya tegak menghadap menara-menara yang bermandikan cahaya lampu. Dari kejauhan terlihat seperti kumpulan pendar bintang di antara langit malam. Menyamarkan parasnya yang menatap tajam.

Anak laki-laki itu terdiam begitu lama. Ia bisa merasakan begitu banyak cahaya, tapi baginya gelap. Hari itu sungguh gelap. Ada berapa banyak kesalahan yang telah ia buat? Sehingga segala kegelapan kini menyesakkan dadanya.

Lampu yang berpendar terlalu ramai. Lautan manusia di jalanan terlalu terang. Taaz tak mengerti. Semuanya menjadi bising. Suara-suara bercampur jadi satu, melemparkannya kesana-kemari di lautan kegelapan. Bahkan angin yang biasa ia berkawan, seolah membencinya. Ia tak mampu lagi membaca gerak bibirnya.

Di tempat yang teramat lapang ini, ia mengasingkan diri. Mencoba mendengar dengan lantang. Persis di tempat kuasanya. Angin. Desau-mendesau, Taaz mulai kedinginan. Ia masih tak mendengar apapun. Kepalanya pusing. Makin ruwet. Belum pernah ia sesedih ini berada dalam kegelapan.

Biasanya ia akan mendengarkan lonceng angin. Tapi di sini tak ada. Rumahnya jauh. Taaz sedih. Tidak ada teman. Toh, ia memang tidak punya teman. Apalagi setelah kejadian tadi pagi. Kejadian yang terlalu berkesan, hingga ia bingung.

Taaz ingin pulang tapi tak bisa. Tak ada angin yang menunjukinya. Tiba-tiba suara tapak kaki bergema. Terlalu keras. Terlalu cepat. Taaz menutup telinga, kesakitan. Ia limbung, hampir bebas. namun sebuah tangan menahannya cepat. Suara familiar di dengarnya menjadikan seluruhnya hening agar bisa terfokus pada suara itu.

“Taaz, apakah kau baik-baik saja? Aku mencarimu ke mana-mana.” khawatir. “Untung ada Liz, membantuku. Kau kenal dia kan? Adik dari Kak Fezt.”

Taaz menolehkan kepalanya. Matanya yang kosong menatap sesosok gadis kecil, mungkin sedikit lebih tua. Meskipun Taaz masih diliputi kegelapan, ia bisa melihat angin berbisik samar bahwa Liz tersenyum lega. “Hai, salam kenal Taaaz.”

tamat (10.06.15)

puisi

Tungku di Pawon

Seperti api pembakaran yang telah lama padam
Abunya tertiup jauh oleh angin
Tiap debunya beterbangan sendiri-sendiri
Tak lama, harus tersimpul erat
Menyatukan hati tak semudah menyambung ucap
Ketika akhirnya ikatan itu boleh lepas
Ada yg terlalu dramatis
Ada yg biasa saja
Ada pula yg tidak peduli, cenderung bahagia

Seperti api pembakaran yg telah lama padam
Setumpuk sekam pun tak mampu menghidupkan
Angin tak lagi membantu mengumpulkan yg berserakan
Apakah sudah saatnya tungku dibuang?

Menyatukan hati bisa jadi semudah menyambung ucap
Hanya ucap yg ringan, hati mengambang
Selebihnya hanya angan-angan
Ketika menjauh seperti mati suri
Jatuh cinta pada memori

(30/11/14)


Latepost lagi. Kali ini mencuplik dari catatan di android. Sony memang sudah hilang. Tapi evernote masih menyimpannya.

This is dedicated to SU2: mas Halwan, mas Eki, mbak Pit, Hakim, dan mbak Ria

puisi

Pulang

(2 – 4 November ‘15)

III Mengeratkan Mimpi-mimpi

Aku selalu merindui perjalanan

Saat semuanya tenang dan penuh tujuan

Tiada kesia-siaan

Tiada penyesalan

Tiada kegamangan

Di sana aku bertemu orang-orang yang kurindukan

:BANDUNG

Tapi aku tidak ingin jadi anak badung

Bolehkah, ma?

Setelah semua ini berakhir

Dan aku bisa tertawa-tawa

Sedikit melupakan rasanya derita


skripsi pada dini hari—

puisi

Pulang

(2 – 4 November ’15)

II Berburu Doa

Tiada pernah orang bermaksud untuk menyakiti yang lainnya

jika saja mereka tahu

rasa sakit yang lainnya rasakan

atau ia mengalami kelainan pada apa-apanya

pada jiwanya yang mati rasa.

Siapa yang berani mencurinya?

Siapa yang bernyali membunuhnya?

Hanya oleh sebab hubungan darah semata

Hanya sebab oleh hubungan hutang budi semata

Tiadalah semua itu memang fana

Di dunia fana

Mungkin dirimu sendirilah pelakunya.

Tiada mau berdaya,

Ia yang tiada mau berjaya.

Ah, bukan. Maafkan aku lagi-lagi menudingmu.

Melakukan perbuatan yang hina

Yang sudah diketahui pada umumnya

Ia berbangkai!

Ia berbau darah orang-orang tak bersalah.

Siapa yang tega?

Itulah aku.

Ya. Aku.

Ak.

A.

.

#

“Terima kasih.”

Bukan itu kata yang hendak kuucapkan

Tak sanggup rasanya,

Meski semua memaksa

Adalah “Maaf.”

Setulusnya aku meminta

Pada lidah yang tak sanggup berkata

Hati ini terlanjur ternoda

Kepala terlalu tinggi

Menyembunyikan tangisku sendiri.

“Maaf.”

Kiranya doaku

Bisakah diterima?

Oleh ucapan yang tak sampai padamu, pada dia, pada mereka?


—Pada selembar kertas bernama status kita di dunia