Liputan, Palestina

Israel Menunda Perawatan Kanker Bagi Anak-Anak Gaza

Sarah Algherbawi The Electronic Intifada Gaza Strip 28 Maret 2017

170327-white-phosphorous
Amunisi fosfor putih dihancurkan di utara Jalur Gaza selama pembongkaran yang diawasi pada Maret 2010. Ada anggapan bahwa persenjataan Israel menyumbangkan peningkatan yang signifikan terhadap penyakit kanker di sana. (Gambar: Yousef Deep/ APA)

 

Jihad adalah seorang bocah laki-laki dengan ambisinya. “Aku ingin tumbuh hingga menjadi astronot dan insinyur,” ucap bocah sembilan tahun itu. “bersamaan.”

 

Sebelum dia dapat meraih impiannya tersebut, Jihad harus sudah sembuh dari sebuah penyakit berat. Sekitar setahun lalu, ia divonis terkena kanker usus besar.

 

Diagnosis tersebut muncul setelah ia dibawa ke rumah sakit akibat keracunan makanan.

 

Bagi keluarganya, berita ini merupakan yang terbaru dari rangkaian tragedi-tragedi. Kembaran laki-laki Jihad terlahir dengan disabilitas parah dan meninggal setelah dua bulan.

 

“Aku sangat bahagia saat dokter memberitahu bahwa aku hamil anak laki-laki kembar,” kata ibu Jihad, Majda Ali. “Aku mulai bermimpi tentang bagaimana seandainya aku menjadi ibu bagi seorang dokter dan insinyur. Mimpi itu kemudian musnah.”

 

Majda tidak mengetahu penyebab kanker pada Jihad. Dia takut, bagaimanapun, mungkin itu ada sangkut pautnya dengan saat bagaimana ia terkena debu berjumlah besar dari bangunan-bangunan yang dibom Israel selama Operation Cast Lead, serangan ke Gaza pada akhir 2008 hingga awal 2009.

 

Ia mengetahui bahwa Jihad membutuhkan perawatan darurat. Dia telah dibawa ke spesialis di Jerusalem. Masih tidak jelas kapan–atau bahkan jika–Israel akan mengizinkan dia untuk bepergian.

 

Pertumbuhan kanker semakin meningkat di Gaza. Pejabat kementrian kesehatan telah memperkirakan bahwa ada 105 kasus kanker setiap 100.000 penduduk di Gaza untuk 1998-2008. Untuk 2009 -2014, menjadi meningkat menjadi 141 kasus setiap 100.000 penduduk, 41 persen lebih banyak dari periode sebelumnya.

 

Pertumbuhan kanker meningkat di seluruh dunia, khususnya di negara berkembang, disebabkan oleh meningkatnya faktor penyebabnya seperti merokok, adopsi diet dari Barat dan gaya hidup yang kurang bergerak, juga tekanan lingkungan.

 

Namun di Gaza, ada perhatian utama bahwa persenjataan Israel mungkin menjadi salah satu faktor.

 

Penghambat

 

Israel diketahui telah bereksperimen dengan sejumlah senjata selama serangan 2008. Mereka melibatkan sebuah suplai misil dari US “bunker buster ” bernama GBU-39 dan fosfor putih, sebuah senjata yang mengakibatkan luka bakar parah.

 

Kecurigaan telah muncul bahwa beberapa misil yang digunakan oleh Israel dibalut dengan uranium dipipihkan, sebuah zat radioaktif.

 

Khaled Thabet, kepala departemen onkologi RS. Al-Syifa di Gaza, berkata bahwa penggunaan Israel terhadap uranium yang telah dipipihkan bisa jadi terkait pada peningkatan level kanker.

 

Hal ini telah dilaporkan juga, bahwa Israel telah menyemprotkan pestisida pada perkebunan di Gaza selama beberapa tahun. Penggunaan pestisida-pestisida beracun dan pupuk oleh para petani juga bisa menjadi kontribusi pada peningkatan laju kanker. Kanker usus besar mungkin disebabkan oleh adanya polutan pada makanan, menurut Thabet.

 

“Banyak pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan bagi para pasien kanker yang masih berkekurangan di sistem kesehatan Gaza,” kata Thabet memberitahukan The Electronic Intifada. “Fasilitas operasi juga tidak ada sama sekali.”

 

Lebih dari 15 persen dari seluruh pasien kanker membutuhkan operasi yang direkomendasikan untuk pergi ke luar Gaza, menurut Thabet. Rujukannya ke RS-RS di Israel, Tepi Barat yang diduduki, Mesir dan, sejumlah kasus, ke Jordan dan Turki.

 

Israel seringkali menghalangi usaha untuk memastikan pasien kanker menerima perawatan yang mereka butuhkan. Beberapa kasus gawat darurat, Israel telah memblokir pasien dari bepergian selama beberapa periode sekitar tiga atau empat bulan, tambah Thabet.

 

Ahmad al-Tannani berambisi pula. Dia ingin menjadi seorang bintang sepak bola.

 

“Ketika aku sudah sembuh, aku akan bermain sepak bola dan berlatih dengan giat,” ucap bocah delapan tahun itu.

 

Ahmad, penduduk kamp pengungsi al-Bureij di pusat Gaza, mengidap limfoma.

 

Setelah menjalani operasi, ia sekarang membutuhkan bentuk perawatan radiasi yang tidak tersedia di Gaza. Dia bisa saja dirawat di RS Israel, tetapi belum diperbolehkan untuk bepergian oleh otoritas Israel.

 

Pemerasan

 

Baru-baru ini data yang dipublikasikan mengindikasikan bahwa Israel telah mengetatkan larangan bepergian dari Gaza.

 

Gisha, sebuah kelompok pembela hak asasi manusia dari Israel, telah melaporkan bahwa ada 44 persen penurunan jumlah orang yang keluar Gaza lewat pos pemeriksaan militer Erez, pada Januari 2017, ketika dikomparasikan dengan tahun lalu pada bulan yang sama. Erez memisahkan Gaza dari Israel.

 

Pasien-pasien medis dan orang yang menemani mereka termasuk di antara kategori travelers yang terkena imbas dari penurunan tersebut, menurut Gisha.

 

WHO juga melaporkan bahwa Israel mengizinkan lebih sedikit orang-orang Palestina untuk bepergian menjalani perawatan medis.

 

Pada Januari tahun lalu, Israel menyetujui 78 persen dari seluruh permintaan untuk bepergian dengan maksud perawatan dibuat atas nama penduduk Gaza. Ketika Desember, proporsi tersebut menurun sampai kurang dari 42 persen.

 

Hal itu merupakan tingkat terendah dari persetujuan yang direkam sejak April 2009.

 

Lebih dari 1400 pasien terhambat memenuhi janji perawatan kesehatan pada Desember tahun lalu. Menurut WHO, itu adalah jumlah terbesar keterhambatan yang pernah direkam.

 

Di antara yang terkena imbasnya adalah 323 anak-anak.

 

Maram Aqil adalah bocah 11 tahun dengan kanker paru-paru. Dia telah menerima kemoterapi di RS Israel. Orangtua gadis itu berharap mereka tidak dihambat dari pergi lewat Erez.

 

“Terlambat kemoterapi selanjutnya akan membunuh Maram,” kata ibunya, Najah. “Itu kata dokter pada kami.”

 

Sebuah residen kamp pengungsi Jabaliya di Gaza, Maram adalah satu-satunya anak. “Ketika Maram tiba, kami pikir kami memiliki seluruh dunia,” kata Najah. “Tetapi aku pikir, kanker akan mengambil kebahagiaan yang kami rasakan.”

 

Sebuah penghalang besar ditemui oleh pasien dengan kondisi serius dan orang-orang yang menemani mereka adalah bahwa mereka dikenakan interogasi oleh pasukan Israel di Erez. Dokter untuk Hak Asasi-Israel telah menyatakan, “Israel secara tidak etis dan tidak bermoral mengeksploitasi kebutuhan-kebutuhan medis pasien-pasien Palestina, membuat mereka transit untuk perawatan medis yang kondisional pada (intelijen Israel) penginterogasian, dengan tujuan memeras mereka untuk intel.

 

Pada Januari tahun ini, Nidal Elian membawa anaknya, Muhammad, ke perbatasan Erez. Berumur 6 tahun, Muhammad menderita kanker paru-paru dan membutuhkan perawatan darurat.

 

Pasukan yang menempati pos pemeriksaan mencoba mem-blackmail Nidal. Mereka berkata padanya bahwa mereka akan mengizinkannya melewati Erez jika ia menjadi informan untuk militer Israel. Nidal menolak.

 

“Aku tahu penolakan ini seharga hidup anakku,” kata Nidal. “Mereka tidak akan pernah mengizinkanku untuk lewat sekarang dan mereka tidak akan pernah membiarkan anakku menyelesaikan perawatannya. Namun, aku tidak bisa menjual negaraku pada musuhku.”

 

*Sarah Algherbawi adalah seorang penulis lepas dan penerjemah dari Gaza.

 

(sumber berita dan gambar: Israel delays cancer treatment for Gaza children)

(penyunting: KUMO)

(sophi’s note: lagi belajar nerjemahin ceritanya. antara lagi bosen sama sedih, blog ini belum apdet-apdet. kalau ada masukan komen yaaa… semoga bermanfaat)

refleksi diri, slice of life

Di Balik Kabut

Pemandangan tanah datar berganti sekejap menjadi hamparan sawah berundak-undak. Benih-benih menyemai hijau menghantarkan hawa dingin yang agak meragu. Pendingin ruangan terpasang di gerbong masih menderu-deru. Hitam yang semula sepekat malam menghamburkan cahaya oranye. Seorang gadis di depan saya terbangun, lalu menyobek cemilannya.

“Mau, Mbak?”

Gelengan kepala beserta senyum basa-basi terlontar. Lalu memantul pada dua orang anak laki-laki di bangku sebelah, menyambutnya riang. Tiga orang anak belum genap duapuluh kalau saya terka, melakukan perjalanan dalam lembutnya goyangan kereta. Satu gadis sekolah menengah atas, dua orang anak laki-laki kira-kira seumuran anak sekolah dasar tahun terakhir.

“Ini dari Magetan. Terus naik di Madiun, mau ke rumah saudara. Liburan.” Kacamata sang anak tertua sedikit terangkat saat seulas senyum tersungging.

“Nggak sama siapa-siapa. Orangtua di rumah. Nggak terlalu ngerti juga, sih. Tapi, nanti dijemput Paman kalau sudah sampai. Pokoknya di stasiun terakhir turunnya,” jelasnya lagi, mantap meskipun sedikit gelagapan pada kalimat terakhir.

Saya tersenyum mafhum, diam-diam mengagumi keberanian mereka. Ketika sang ‘adik’ bertanya ingin tahu ‘Ini sudah dimana?’, sang ‘kakak’ hanya tertawa sambil bilang ‘tidak tahu’. Nampaknya mereka berusaha mencerna aroma kota-kota yang baru mereka lewati. Perlahan-lahan lokomotif semakin mendekat ke pemberhentian.

“Mbak, Mbak, mau ini? Tadinya sudah saya makan jamurnya tapi tidak habis. Masih utuh nasi sama atinya. Sayang, mereka juga tidak mau.” Tiba-tiba percakapan kembali menjelma. Mata gadis itu melirik ‘adik-adiknya’ yang tengah asyik mengamati pemandangan yang semakin nyata tercetak di jendela kaca. Ulangnya, “Mau ya, Mbak?”

Sekotak box mika penuh nasi dan lauk disodorkan sementara kedua belah matanya kembali menatap saya intens membuat saya tidak tega. Sebentar lagi, petugas kebersihan datang. Saya pun sedang tidak ingin makan. Menerimanya sambil berusaha menghapus keraguan saya kemudian berujar, “Terima kasih, ya.”

Beberapa menit kemudian mereka sudah menghilang, menyongsong jejeran lokomotif yang diparkir. Meninggalkan saya sendirian, menata barang-barang seolah enggan pergi. Padahal ini sudah pemberhentian terakhir serupa yang tertulis dalam tiket yang telah terbeli. Dan saya pun sudah berjanji pada seseorang di seberang pagar exit.

Bergegas berjalan tidak ingin menyia-nyiakan jemputan lebih lama, saya masih diliputi tanya, ‘Lagi ngapain kamu di sini, Phi?’

Peluk kerinduan kemudian menghambur. Riuh tak seharusnya menahan kami untuk kemudian pergi: pulang ke rumah. Meskipun itu bukan rumah saya sebenarnya, tetapi nama rumah tentu bisa berada di mana saja, bukan?

Saya dibonceng, melaju melewati tulisan “Stasiun Bandung” mampir menuju Jalan Gagak.

Hari itu jalanan kota begitu jelas meskipun dengung kendaraan bertambah padat. Namun, tidak semua hari-hari esok demikian. Mungkin hanya visi ini yang memburam, menyeleksi kabut melenakan. Hati saya berdesir oleh kenangan-kenangan menyesakkan.

Padahal jalanan seharusnya masih terang.

Sejelas keyakinan gadis itu pada Pamannya.[]

In memory 22/12/16

refleksi diri, slice of life

Hadiah Akhir Tahun 2016

Tahun 2016 itu sesuatu banget. Meskipun saya belum bisa menyelesaikan tugas akhir, banyak hal yang terjadi, upside down berkali-kali, nyatanya saya masih survive ke awal tahun 2017 ini.

Salah satu wujud peninggalan tahun 2016 adalah sebuah novel hadiah dari event fanfiksi tahunan SasuHina Days Love. Ini novelnya sudah sampai, alhamdulillah …

 

img-20161227-wa0001

Saya seneng banget ada yang menghadiahi novel salah satu penulis kesukaaan saya yaitu Agatha Christie.

Terima kasih ya atas hadiah bukunya buat Kenzeira dan panitia penyelenggara, sang founder woman, Gina Atreya. Semoga sukses buat event-event ke depannya.

Bagi yang ingin membaca review singkatnya, kebetulan sekali saya sudah pernah membuatnya sekitar awal tahun kemarin, di sini:

Misteri Burung Hitam

Jangan tanya kenapa reviewnya awal tahun 2016 padahal saya dapat hadiahnya sekitar Desember kemarin, hehehe.

Cerita yang saya buat biasa aja sih. Malah kata adik saya banyak plot hole dan pemilihan kata yang nggak bener. Itu pertama kalinya saya bikin empat ribu kata sekitar seminggu plus riset serabutan.

Ide itu mulai muncul ketika acara nobar film dokumenter berjudul “Five Broken Cameras” yang diadakan oleh SRUPP (Solidaritas Rakyat untuk Pembebasan Palestina) ditemani oleh mbak Diput.

Film itu berkisah tentang seorang netizen, warga Palestina, hanya berbekal oleh kamera berusaha mengisi kegiatan dengan merekam hari-harinya. Tembok aparteid waktu itu mulai dibangun. Mula-mula hanya berupa kawat besi. Lama-kelamaan semakin tinggi membatasi mereka dengan sebagian tanah warga yang berisi kebun tin, salah satu sumber penghidupan mereka. Satu-satunya cara melawan hanya lewat demonstrasi tiap bakda shalat Jumat. Kadang demo berakhir rusuh. Beberapa kali sang netizen ikut merekam demo dan kameranya jadi rusak sampai kamera kelima.

bd5077b911a55780e2006f9fc00f7bd4

Credit gambar: visualizing Palestine.  Di sana banyak data-data terkini tentang Palestina berbentuk visual.

Jadi, memang cerita saya masih nggak ada apa-apanya dengan realita di sana. Itu murni fiksi belaka. Bahkan mungkin sama sekali nggak mencerminkan suasananya. Saya cuma berharap dengan cerita itu saya berusaha memantik diri sendiri untuk lebih peka dengan dunia luar terlebih saudara sendiri nun jauh di sana.

Sampai kemudian berita-berita tentang Aleppo mencuat. Saya masih belum apa-apa. Belum bisa ke mana-mana ….[]

Uncategorized

Penistaan Al-Quran, Memihak.

Ukiran - Ukiran Perjuangan

meerkat-group-jpg-adapt-945-1Sudah beberapa pekan belakangan media kita diramaikan dengan berita soal penistaan al-Quran yang dilakukan oleh Bapak Ahok (Gub DKI non aktif) saat tengah berbicara di depan warga Kepulauan Seribu bulan September yang lalu. Divideo yang kemudian menjadi viral tersebut, Bapak Gubernur yang sejak lama memang menimbulkan letupan media ini mengucapkan kalimat yang dianggap oleh ulama (coba cek kajian MUI) menghina Al-Quran dan menghina Ulama. Secara khusus, ayat tersebut adalah surat Al Maidah ayat 51.

Isu ini kian santer terdengar di berbagai media setelah muncul seruan aksi di tanggal 4 November 2016 yang akan datang, dengan tuntutan Pak Ahok diperiksa dan diberikan hukuman. Di sebuah kajian Subuh, jamaah terbelah. Ada yang mengatakan, “Sebenarnya tidak perlu diributkan lagi, toh beliau sudah minta maaf”, ada yang bilang “beliau tetap harus diberikan hukuman, karena Indonesia memang negara hukum, meskipun sudah minta maaf, ya tetap harus diperiksa”, ada juga yang dengan cerdiknya memanfaatkan suasana dengan…

View original post 1,038 more words

Uncategorized

I travelled to Palestine-Israel and discovered there is no Palestinian-Israeli Conflict.

Palestinian Diary

My thoughts on the following Huffington Post article:

I travelled to Palestine-Israel and discovered there is no Palestinian-Israeli Conflict.

I came across this article on the Huffington Post website last week. It was shared by a group I follow on Facebook called Palestine Festival of Literature. PalFest often post insightful articles and comment pieces about political, social and cultural life in Palestine. I highly recommend following them if you are interested in hearing about the other side of Palestine, the unreported side.

I decided to share this article on my blog because it really struck a nerve with me. Since returning from the West Bank over a year ago, I have found it difficult to sum up my view on the political situation in the region. The following paragraph is an excerpt from the article. It was written by American journalist Ferrari Sheppard after his visit to the West Bank:

View original post 649 more words

kajian, Liputan, refleksi diri, slice of life

Menjaga Kerinduan

Sebuah resume kajian pada ramadhan 1436 H

 

Bila Ramadhan hanyalah sebuah momentum. Ia datang setahun sekali membawa banyak lowongan kebaikan, membawa banyak berkah. Ia datang setahun sekali membawa perintah puasa. Ia datang setahun sekali membawa diskon besar-besaran, liburan panjang, dan bonus THR spesial. Sungguh momentum yang sangat istimewa. Ia memang bukan waktu satu-satunya waktu untuk melakukan perubahan. Akan tetapi, memenuhi hari dengan perubahan kebaikan adalah satu-satunya hal yang harus dilakukan di dalamnya.

 

Sudahkah ada target yang harus tercapai?

Sudahkah dituliskan rencana-rencana selama Ramadhan?

Sudahkah harap-harap cemas akan kedatangannya?

 

Agenda yang kadang terlalu padat atau malah terlalu luang, kadang melenakan. Ada banyak alasan yang dibuat atas kealpaan-kealpaan yang kerap menyambangi. Apakah sudah cukup berusaha untuk menghilangkan resah di hati? Kadang ada begitu banyak tanya yang kita mencukupkan diri untuk mencari jawabannya. Kadang ada sayatan yang bertambah ketika men-dzalim-i orang lain, dan abaikan saja. Kadang ada dongkol yang terus subur melihat kebahagiaan orang lain. Astaghfirullahal’adziim….

 

Begitulah mungkin yang terjadi ketika akal, hati dan jiwa melakukan tugas yang tidak semestinya. Misalkan untuk makan, cukup tugas untuk akal. Menghafal dan memahami itu tugas hati, dan tugas jiwa adalah ketika mendengar kalamullah. Jika telah sampai tahap jiwa, maka tingkatannya adalah ihsan.

 

Diperlukan jiwa yang kuat agar bisa mencapai tingkatan tersebut. Jiwa sendiri merupakan sosok yang pernah dekat dengan Allah dan berasal dari-Nya sehingga bisa diartikan bahwa jiwa adalah penghubung manusia dengan Allah dan alam akhirat. Jika jiwa diibaratkan ponsel dan yang membuat hubungan lancar adalah daya baterai dan pulsa maka daya tersebut dapat diperoleh dengan terus menabung kebaikan sehingga sinyalnya menjadi kuat.

 

Lalu, bagaimana dengan jiwa yang tidak bisa terhubung? Mungkin pulsanya habis dan sinyal hilang. Maka dari itu perlu di-charge berulang-ulang agar mempunyai cadangan yang tidak pernah habis. Momen itu telah Allah sediakan gratis plus plus bonus yaitu bulan Ramadhan.

 

Kebaikan yang diperlukan jiwa, utamanya tauhidullah. Shalat dan membaca Alquran adalah asupan untuk hati. Sedangkan jiwa adalah cinta kepada akhirat (hubbul akhiroh) dalam surah Al-A’rof telah disebutkan, Qoolu balaa syahidna…. Dan dalam bulan Ramadhan insya Allah adalah momentum yang pas untuk camp training.

 

Rasulullahﷺ Dalam hadits Qudsi bersabda: “Fainnahu lii, wa ana ajrihi bih … Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.”

 

Menjaga kerinduan akhirnya bukan sekadar ucapan dengan strategi sempurna di atas kertas. Bukan pula ke-alay-an hati dalam ber-baper-ria, bukan pula menolak segala yang ada dan diam. Menjaga kerinduan berarti berjuang. Terus meminta terus meminta terus meminta… agar sang pemilik rindu itu menjaga rindu kita. Dan mendekatkannya, memudahkannya. Bismillahirrahmanirrahim.

 

Semangat perubahan! Semangat menyongsong Ramadhan! Semangat menjaga kerinduan! Sudahkah kau siap, menyambut datangnya tamu yang penuh berkah? Sebentar lagi… sebentar lagi…

refleksi diri, slice of life

Manusia Sempurna

Sakit. Sudah lama sekali sejak aku mengingat rasa sakit ini. Rasa sakit yang mengobsesikan tentang kematian. Saat-saat manusia tercarebut kuasanya yang fana. Lemah, tiada berdaya. Hanya dengan seuntai kata-kata bermakna benci, negasi dari makna cinta.

cri hide
「Cinta manusia itu bullshit. Tidak ada yang namanya cinta yang sempurna. Hanya Tuhanlah yang punya segala kesempurnaan. Sedang manusia asalnya papa. Jadi siapa yang menyuruhmu percaya padaku yang mengaku mencintaimu. Aku manusia dengan cinta yang sempurna pada awalnya. Mencintaimu. Engkau, (makhluk) pilihan Tuhan. Cintamu sempurna. Akan tetapi, kutegaskan sekali lagi, takdirku adalah manusia. Berbeda denganmu, manusia sempurna jika Tuhan bersamanya.」

「Sungguh, aku benci menyalahkan siapapun. Bad-mouthing seseorang itu menyakitkan. Bukan orang itu tapi, (juga) bagiku. Merepotkan. Aku tipe orang yang menghindari hal merepotkan atau rumit. Pada suatu ketika, ada kalanya aku malah menubrukkan diri dengan sesuatu yang merepotkan itu. Dengan sadar, kuakui, saat sakit itu melanda selalu muncul rasa dari dalam diri entah sebagian, entah keseluruhan, keinginan untuk menyalahkan. Apakah untuk excuse terhadap ketidakberdayaan dirimu sendiri memikul rasa sakit yang telah kau anggap melebihi batas? Jangan samakan telah dan hampir. Pertanyaannya adalah batas yang mana?」

「Mama bilang untuk diam saja. Tutup mulutmu untuk mengeluarkan kata-kata tidak baik. Kunci tubuhmu untuk tidak berlaku sesuai fungsinya. Terus berusaha saja untuk berlaku sebagai mana wajarnya. Sebagaimana fitrahnya. Tanpa perlu menuntut balas. “Kutuk saja orang itu karena aku telah didzolimi.” Come on, ini bukan lagi zaman Maling Kundang. Kedewasaan itu bisa berarti kelapangan dada dan mungkin otak juga diperlukan.
Tak pernah Mama ngajarin buat menyimpan prasangka buruk. Tak pernah Mama ngajarin tentang berucap yang jelek tentang orang lain meskipun kelihatannya jelas begitu.」

「Wilayah manusia
memang,
wilayah kasat mata.」
Kalau tak sanggup menahan diri memancing orang. Diam?

large

「Yang ada hanyalah doa baik meskipun udah didzolimi. Itu yang Mama ajarkan. Yang ada adalah prasangka baik. Sejelek apapun yang terlihat. Wallahu sami’un ‘aliim. Wallahu ‘ala kulli syai in qodiir. Ikhtiar terbaik adalah dengan kebaikan pula. Kenapa? Kenapa masih gagal?
Dalam berikhtiar?
Dalam bersabar?
Dalam berprasangka?」

「Mungkin, iya. Mungkin oleh sebabnya kau manusia. Manusia tak sempurna. Manusia yang terbelah dua dari Tuhannya」