Di Balik Kabut

Pemandangan tanah datar berganti sekejap menjadi hamparan sawah berundak-undak. Benih-benih menyemai hijau menghantarkan hawa dingin yang agak meragu. Pendingin ruangan terpasang di gerbong masih menderu-deru. Hitam yang semula sepekat malam menghamburkan cahaya oranye. Seorang gadis di depan saya terbangun, lalu menyobek cemilannya.

“Mau, Mbak?”

Gelengan kepala beserta senyum basa-basi terlontar. Lalu memantul pada dua orang anak laki-laki di bangku sebelah, menyambutnya riang. Tiga orang anak belum genap duapuluh kalau saya terka, melakukan perjalanan dalam lembutnya goyangan kereta. Satu gadis sekolah menengah atas, dua orang anak laki-laki kira-kira seumuran anak sekolah dasar tahun terakhir.

“Ini dari Magetan. Terus naik di Madiun, mau ke rumah saudara. Liburan.” Kacamata sang anak tertua sedikit terangkat saat seulas senyum tersungging.

“Nggak sama siapa-siapa. Orangtua di rumah. Nggak terlalu ngerti juga, sih. Tapi, nanti dijemput Paman kalau sudah sampai. Pokoknya di stasiun terakhir turunnya,” jelasnya lagi, mantap meskipun sedikit gelagapan pada kalimat terakhir.

Saya tersenyum mafhum, diam-diam mengagumi keberanian mereka. Ketika sang ‘adik’ bertanya ingin tahu ‘Ini sudah dimana?’, sang ‘kakak’ hanya tertawa sambil bilang ‘tidak tahu’. Nampaknya mereka berusaha mencerna aroma kota-kota yang baru mereka lewati. Perlahan-lahan lokomotif semakin mendekat ke pemberhentian.

“Mbak, Mbak, mau ini? Tadinya sudah saya makan jamurnya tapi tidak habis. Masih utuh nasi sama atinya. Sayang, mereka juga tidak mau.” Tiba-tiba percakapan kembali menjelma. Mata gadis itu melirik ‘adik-adiknya’ yang tengah asyik mengamati pemandangan yang semakin nyata tercetak di jendela kaca. Ulangnya, “Mau ya, Mbak?”

Sekotak box mika penuh nasi dan lauk disodorkan sementara kedua belah matanya kembali menatap saya intens membuat saya tidak tega. Sebentar lagi, petugas kebersihan datang. Saya pun sedang tidak ingin makan. Menerimanya sambil berusaha menghapus keraguan saya kemudian berujar, “Terima kasih, ya.”

Beberapa menit kemudian mereka sudah menghilang, menyongsong jejeran lokomotif yang diparkir. Meninggalkan saya sendirian, menata barang-barang seolah enggan pergi. Padahal ini sudah pemberhentian terakhir serupa yang tertulis dalam tiket yang telah terbeli. Dan saya pun sudah berjanji pada seseorang di seberang pagar exit.

Bergegas berjalan tidak ingin menyia-nyiakan jemputan lebih lama, saya masih diliputi tanya, ‘Lagi ngapain kamu di sini, Phi?’

Peluk kerinduan kemudian menghambur. Riuh tak seharusnya menahan kami untuk kemudian pergi: pulang ke rumah. Meskipun itu bukan rumah saya sebenarnya, tetapi nama rumah tentu bisa berada di mana saja, bukan?

Saya dibonceng, melaju melewati tulisan “Stasiun Bandung” mampir menuju Jalan Gagak.

Hari itu jalanan kota begitu jelas meskipun dengung kendaraan bertambah padat. Namun, tidak semua hari-hari esok demikian. Mungkin hanya visi ini yang memburam, menyeleksi kabut melenakan. Hati saya berdesir oleh kenangan-kenangan menyesakkan.

Padahal jalanan seharusnya masih terang.

Sejelas keyakinan gadis itu pada Pamannya.[]

In memory 22/12/16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s