Lonceng Angin

Cast: Taaz dan Liszy

Angin berhembus keras, sedikit menggoyangkan sepasang kaki yang terjuntai bebas. Sementara setengahnya tertahan oleh dinding beton, tepat di bawah angkasa jauh dari bumi. Siluetnya tegak menghadap menara-menara yang bermandikan cahaya lampu. Dari kejauhan terlihat seperti kumpulan pendar bintang di antara langit malam. Menyamarkan parasnya yang menatap tajam.

Anak laki-laki itu terdiam begitu lama. Ia bisa merasakan begitu banyak cahaya, tapi baginya gelap. Hari itu sungguh gelap. Ada berapa banyak kesalahan yang telah ia buat? Sehingga segala kegelapan kini menyesakkan dadanya.

Lampu yang berpendar terlalu ramai. Lautan manusia di jalanan terlalu terang. Taaz tak mengerti. Semuanya menjadi bising. Suara-suara bercampur jadi satu, melemparkannya kesana-kemari di lautan kegelapan. Bahkan angin yang biasa ia berkawan, seolah membencinya. Ia tak mampu lagi membaca gerak bibirnya.

Di tempat yang teramat lapang ini, ia mengasingkan diri. Mencoba mendengar dengan lantang. Persis di tempat kuasanya. Angin. Desau-mendesau, Taaz mulai kedinginan. Ia masih tak mendengar apapun. Kepalanya pusing. Makin ruwet. Belum pernah ia sesedih ini berada dalam kegelapan.

Biasanya ia akan mendengarkan lonceng angin. Tapi di sini tak ada. Rumahnya jauh. Taaz sedih. Tidak ada teman. Toh, ia memang tidak punya teman. Apalagi setelah kejadian tadi pagi. Kejadian yang terlalu berkesan, hingga ia bingung.

Taaz ingin pulang tapi tak bisa. Tak ada angin yang menunjukinya. Tiba-tiba suara tapak kaki bergema. Terlalu keras. Terlalu cepat. Taaz menutup telinga, kesakitan. Ia limbung, hampir bebas. namun sebuah tangan menahannya cepat. Suara familiar di dengarnya menjadikan seluruhnya hening agar bisa terfokus pada suara itu.

“Taaz, apakah kau baik-baik saja? Aku mencarimu ke mana-mana.” khawatir. “Untung ada Liz, membantuku. Kau kenal dia kan? Adik dari Kak Fezt.”

Taaz menolehkan kepalanya. Matanya yang kosong menatap sesosok gadis kecil, mungkin sedikit lebih tua. Meskipun Taaz masih diliputi kegelapan, ia bisa melihat angin berbisik samar bahwa Liz tersenyum lega. “Hai, salam kenal Taaaz.”

tamat (10.06.15)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s