puisi

Pulang

(2 – 4 November ’15)

I Jalanan Tiada Lagi Lengang

Dikejar-kejar oleh rutinitas yang berubah jadi ritual kesetanan

Badan dan pikiran. Pun siklus bulanan.

Lengkap sudah kefuturan.

Tiada sapa, tiada tawa, tiada sentuhan yang sampai ke hati.

Hampa.

Aku tak bisa lihat apa-apa. Aku mulai merindukan utopia.

Angan-angan dari orang-orang yang kuharap tiba. Tapi tanpa usaha, mereka tiada.

Bahkan doa pun tak lagi kuasa. Suaraku senyap, tercekik hampir putus asa.

Pada detik kesekian aku berhasil melompat lari dari minggu penuh kepadatan.

#

Aku duduk tinggi menghadap jalanan

Terhampar panjang ditingkahi kendaraan

Sorot lampu dim dan riting menjadi nyanyian aamiin

Entah saat aku berdoa atau tidak

Suaramu tiba-tiba menyela klakson truk yang ingin lewat

Aku terpaku keheranan

Bagaimana suara bisa berbayang tanpa cahaya?

##

Aku lelah tapi tiada ingin tidur

Aku belum cukup makan

Saat kau merenggutku tiba-tiba

Pasrah saja

tiada seorangpun yang bertanya sedemikian rupa

Berhari-hari

tiada seorangpun yang menyapa sedemikian aneh

Takjub saja

Sehingga kutunggu saja kamu yang bercerita tanpa jeda

Memaksaku menjalankan otak yang telah menjadi sedikit lambat

pada kesadaran yang bercabang dua

“Aku harus berdoa, harus doa banyak-banyak. Aku kan musafir.”

Tapi doa seperti apa?

“Ya muqollibal quluub… tsabbit qolbi ‘ala diinik. Ya Allah jagalah hati ini agar tetap pada agamaMu…”

Kau masih jua merampasnya tiba-tiba

Menyisakan aku termangu-mangu, gagu

Pendar-pendar kendaraan seakan buram

Di mataku, aku berharap itu hujan

Melahap suaramu. Melesapkan anganku.

Saat kau terus bercerita tentang apa saja

Dan aku hanya berdehem.

Sambil meraba-raba

Allah sudah skenariokan semua.

Perlukah aku mengadu bahwa hatiku telah menjadi biru?

Aku tergugu.

‘Kenapa aku selalu menulis puisi

pada orang yang tak bisa kusampaikan suaraku?’

:di sini, hujan masih abu-abu

Dan aku hanya berdehem.

:kecewa

orang macam kau

dan orang macam aku

larut pada malam yang ber-AC

dalam kotak beroda

:ia buram sebab embun

lalu dihapus oleh matahari tanpa sisa

esoknya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s