puisi

Pulang

(2 – 4 November ’15)

II Berburu Doa

Tiada pernah orang bermaksud untuk menyakiti yang lainnya

jika saja mereka tahu

rasa sakit yang lainnya rasakan

atau ia mengalami kelainan pada apa-apanya

pada jiwanya yang mati rasa.

Siapa yang berani mencurinya?

Siapa yang bernyali membunuhnya?

Hanya oleh sebab hubungan darah semata

Hanya sebab oleh hubungan hutang budi semata

Tiadalah semua itu memang fana

Di dunia fana

Mungkin dirimu sendirilah pelakunya.

Tiada mau berdaya,

Ia yang tiada mau berjaya.

Ah, bukan. Maafkan aku lagi-lagi menudingmu.

Melakukan perbuatan yang hina

Yang sudah diketahui pada umumnya

Ia berbangkai!

Ia berbau darah orang-orang tak bersalah.

Siapa yang tega?

Itulah aku.

Ya. Aku.

Ak.

A.

.

#

“Terima kasih.”

Bukan itu kata yang hendak kuucapkan

Tak sanggup rasanya,

Meski semua memaksa

Adalah “Maaf.”

Setulusnya aku meminta

Pada lidah yang tak sanggup berkata

Hati ini terlanjur ternoda

Kepala terlalu tinggi

Menyembunyikan tangisku sendiri.

“Maaf.”

Kiranya doaku

Bisakah diterima?

Oleh ucapan yang tak sampai padamu, pada dia, pada mereka?


—Pada selembar kertas bernama status kita di dunia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s