Alasan

Ia kini berlari-lari kepayahan. Tangannya tak lagi menggenggam sebatang pena dan selembar kertas. Namun punggungnya memanggul laptop dan charger. Namun semuanya sama saja. Kosong. Lembar virtual bernama microsoft word itu hingga kini masih kosong. Tangan masih mengawang ketika otak yang merupakan pusat segala perintah buntu. Menolak segala keinginan tangan. Tak ada. Tak ada yang harus dituliskan. Tak usah. tapi tangan ternyata teramat rindu pada barisan kata-kata yang tersusun. Entah. Rapi atau yang terpenting berdiri. Tegap. Takut. Rupanya otak juga menjadi pengecut. Ia terlalu peduli pada kata-kata. Ia terlalu terpaku pada sempurna dan komitmen yang bersanding. Oke, ia pernah mendengar, tentang kata komitmen dari seseorang yang dihormatinya: tidak akan meninggalkan sesuatu yang sudah “di-komitmen-i” dalam hal perbuatan dan ucapan. Sedangkan kata sempurna menurut KBBI adalah 1afdal, akmal, cukup, genap, jangkap, kafi, kamal, kamil, komplet, lengkap, paripurna, sidi, tamam, utuh, ideal, perfek, prima, transenden, utama; 2beres,selesai, tuntas.
Oh, berat. Memang berat sekali. Ketika standar sebuah kesempurnaan bersifat relatif dan memberikan sebuah penyelesaian perlu treatmen khusus. Pernah dia baca melalui inbox mail-nya, membuat sebuah penyelesaian seperti halnya menidurkan anak kecil. You can’t doing abruptly!
Dan ia bersanding dengan kata komitmen. Ah, otak.
Kenapa kau hanya terpaku pada kedua kata itu? Padahal pada tangan yang jemarinya berbuah kata kadang-kadang, dia (hanya) kenal rindu dan yang lainnya. Tak ada yang mampu pecahkan konsentrasi akal ‘pabila ia telah terpaku. Terlalu hening jua. Lalu pecah ketika sebuah lantunan merdu itu menyusup memecah gendang telinga. Memaksa otak bekerja ketika hantaran impuls meraba.
Iqra bismirobbbikal ladzi kholaq… kholaqol insaana min alaq… iqra’ wa robbukal akrom…alladzi ‘allama bil qolam….. Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah dan Rabb-mulah yang paling pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.
Akhirnya ia tersentak. Berpikir-pikir lagi. Ayat yang dibacanya, didengar artinya, sering namun mungkin ia tak jua memahami. Bacalah dan Rabb-mulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Sudah berapa banyakkah ia membaca buku saat ini? Sudahkah
ia belajar hari ini? Membaca adalah amunisi. Dan buku-buku terbaik adalah bergizi. Sedangkan menulis berarti mengikat ilmu. Ilmu dari siapa? Dari orang yang berilmu. Sedangkan dia? Pelajar memang labelnya. Namun, belajar saja malas. Dari mana dia bisa disebut orang berilmu apalagi menulis ilmu. Dan pada titik ini ia benar-benar bingung.
Pena dan kertas telah ia tinggalkan. Laptop dan charger hampir saja ia buang. Lalu apa yang bisa ia lakukan setelah ini? Mungkin ia terlalu banyak beralasan tentang komitmen tentang kesempurnaan.
Apa yang bisa dicapai jika tak melalukan apa-apa? Sepertinya telah terjadi miskomunikasi di sini. Kata ustadz Syatori kemarin antara hati dan akal masing-masing harus melakukan tugasnya. Dengan akal manusia berpikir dan dengan hati bisa memahami. Kerja-kerja mana yang harus menggunakan akal mana pekerjaan yang menggunakan hati? Mungkin harus dipetakan dulu, porsi masing masing.
Seperti halnya ketika menulis. Tak bisa dinafikkan
salah satunya. Tetap berusaha sinkronisasi.
Biar ketika jemari menumpahkan rindunya, akal yang
berpikir. Hati jangan ikut-ikutan. Meski kadang masih tersimpan ego yang membuncah. Cukup berikan sentuhan agar hasil tulisan tak menjadi dangkal. Dan itu memang susah. Susah yang menjadi gampang apabila diasah dan dibiasakan. Yep.
Makanya perlu komitmen. Ia terkekeh mengingat kata
itu. Hanya perlu komitmen. Standar sempurna biarlah tulisan itu dinilai oleh hati masing-masing.
Di atas kertas virtual itu kini terketik. Shiori Sophi. Yang berkomitmen menuliskan nikmat-Nya melalui tenunan kata-kata … fabiayyi ala irobbikuma tukadzdzibaan
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s