Tiga Belas Kasus

image015

Judul Asli : The Thirteen Problems
Pengarang : Agatha Christie
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : Julanda Tantani
Kota/Tahun tebit : Jakarta/ 2012
Cetakan ke – : 5
Tebal buku : 312 halaman + sampul
Jenis sampul : paperback
Ukuran buku : 18 cm x 11 cm
“Tapi tahukah Anda, sebenarnya rasa bersalah itu tidak begitu penting—yang penting justru rasa tidak bersalah. Hal itulah yang tidak disadari oleh orang-orang.” Sir Henry Clithering
Seperti dalam kisah-kisah yang ditulis Agatha Christie lainnya, dalam buku ini memuat misteri lebih tepatnya kumpulan kisah misteri. Tokoh utama dalam buku ini adalah Jane Marple atau yang lebih dikenal dengan sebutan Miss Marple, seorang perawan tua di St. Mary Mead yang menggemari watak dan perilaku manusia. Mengambil tiga setting yang berbeda Miss Marple dan ada pula tokoh lain yang selalu muncul dalam buku ini, Henry Clithering, seorang terlibat sebuah pembicaraan seru mengenai misteri-misteri yang terjadi di sekitar kehidupan mereka.
Pada bagian pertama Miss Marple dan Sir Henry terlibat dalam sebuah klub bernama Klub Selasa Malam yang masing-masing anggotanya menceritakan tentang sebuah misteri yang hanya mereka yang mengetahui pemecahan masalahnya. Anggota yang lain bertugas untuk menebak-nebak pemecahannya. Ada kisah mengenai rumah pemujaan astarte, batangan-batangan emas yang hilang dari sebuah kapal karam, noda darah di trotoar, tipuan khas pengacara, dan ikan kakap beracun. Hampir sebagian besar kisah Miss Marple berhasil menebaknya dengan gayanya yang khas, mengait-kaitkan dengan kejadian-kejadian di desanya St. Mary Mead.
Pada bagian kedua pun hampir mirip. Mereka berkumpul di rumah keluarga Bantry dan saling bercerita mengenai misteri-misteri terselubung yang sudah terkuak maupun belum. Lagi-lagi Miss Marple menunjukkan ketajaman berpikirnya dengan menemukan fakta-fakta kecil, saling mengaitkan, juga keahliannya melihat dari sudut pandang yang berbeda. Sir Henry yang terkagum-kagum dengan Miss Marple akhirnya melihat langsung, pada bagian terakhir buku, ketajaman pikiran perawan tua itu pada sebuah kasus yang terjadi di sekitarnya dan Sir Henry diminta untuk mencari bukti-bukti yang nyata. Kasus konklusi tentang anak gadis hamil yang mati tenggelam di sungai.
Seperti biasa Agatha Christie menampilkan kisah-kisah yang luar biasa. Dengan pemaparannya mengenai detail-detail penampakan dan sifat manusia menjadikan karakter-karakternya terlihat hidup dan mudah dibayangkan. Lewat karakter-karakternya itulah yang menjadikan kekuatan pemecahan setiap misteri adalah bagaimana tiap tokoh menghayati perannya. Kadang tidak perlu trik yang muluk-muluk, namun setiap kejadian satu dengan yang lain memiliki simpul yang saling berkaitan. Begitupula manusia yang menjadi pelakunya sehingga yang perlu dicermati adalah bagaimana pelaku-pelaku tersebut biasanya menanggapi kejadian di sekitarnya. Bukan ramalan bukan keajaiban tak terduga, yang diperlukan hanyalah ilmu titen (mengamati setiap kejadian dan menjadikannya sebagai sebuah penanda yang saling berkaitan). Seperti halnya Miss Marple.
24.04.2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s