Resensi

Serat Rama

Pada siang yang terik akhirnya saya dan piiip (sensor) berhasil bernaung dalam sebuah ruangan bawah tanah yang sejuk, dingin-dingin ac. Singkat cerita kami mencari sebuah naskah sebagai bahan tugas sebuah mata pelajaran yang berjudul Serat Rama. Berputar-putar antara ruang sirkulasi dan pustaka Artati kami baru menemukannya setelah bertanya kepada petugas di sana. Terang saja kondisi naskah tersebut lumayan ‘mengenaskan’ sehingga masih dalam perawatan sehingga kami pun diwanti-wanti untuk berhati-hati ketika membukanya.

Sayang sekali saya lupa mendokumentasikan kondisi fisiknya. Secara sekilas, naskah ini berukuran besar hampir seukuran kertas A4 panjang dan lebarnya. Tebal naskah kira-kira sepanjang 1 – 2 cm. Kondisi kertasnya sudah sangat rapuh berwarna kecoklatan. Pada halaman isi awal banyak sekali dijumpai tambalan selotip untuk menutupi bekas robekan yang akhirnya malah menyisakan noda coklat tua di mana-mana. Usaha-usaha perawatan nampaknya masih belum maksimal sehingga buku tersebut masih sangat rawan untuk dibawa-bawa atau dipinjamkan meskipun bagian luar/ sampul sudah diperbaharui dengan kertas hardcover yang dilaminasi.

Judul                                  : Serat Rama

Letak                                 : Pustaka Artati, Perpustakaan Pusat Universitas Sanata Dharma, Mrican, Gejayan, Yogyakarta

Nomor               klasifikasi       : 899. 222 2 Jas S C.1

Dikarang oleh                              : R. Ng. Yasadipura

Pembuka oleh               : J. Kats

Dalam satu jilidan terdapat dua bundel naskah: jilid I dan II

Aksara                                             : Latin berbahasa Jawa ejaan lama.

Iluminasi                         : tidak ada. Hanya terdapat foto-foto yang dicetak hitam putih.

Isi                                        : ringkasan singkat mengenai Kakawin Ramayana karangan Valmiki, foto-foto relief Ramayana yang terdapat di Candi Prambanan dan Candi Panataran, Serat Rama dan uraian isinya secara singkat.

Berkaitan mengenai tugas yang kami cari yaitu mengenai kisah Hanoman Duta/ Hanoman Obong berikut rinciannya (narasi halaman 12):

  • Gambar-gambar relief Prambanan memiliki latar belakang Hindu Jawa sedangkan

Gambar relief di Panataran latar belakangnya benar-benar Jawa.

  • Gambar monyet (kethek) di Prambanan semuanya natural kecuali raja-raja monyet yang berwujud hampir mirip manusia (Sugriwa dan Subali). Mereka menggunakan makota inggil dan panganggo keprabon seperti halnya Rama. Meskipun begitu penampakan mulut/ bibir mereka tetap seperti kera.

Sugriwa dan Subali digambarkan tidak terlihat ekornya.

  • Di Candi Panataran, gambaran Hanoman dan monyet-monyet punggawa tubuhnya tegap seperti manusia lan juga memakai gelung supit urang seperti wayang. Bedanya dengan raja monyet/ Sugriwa yaitu hanya pada bentuk gelung dan tatanan rambut saja. Semua monyet termasuk Sugriwa terlihat ekornya berdiri menghadap ke atas. Gambaran Hanoman di sini sangat mirip dengan wayang kulit Bali.
  • Beberapa mitologi yang melatarbelakangi:

Di beberapa daerah di tanah Hindu ketika jaman kuna, manusia pada menyembah monyet. Lebih-lebih terhadap dewa monyet bernama Hanoman. Di Serat Cariyos Benggala, disebutkan bahwa Hanoman adalah juru tengga korinipun Sang Hyang Siwa. Menurut Serat Djataka, diceritakan Sang Budha dulu sudah pernah menitis pada monyet.

Yups, sekian ‘temuan’ kali ini. Sebenarnya ini masih mentah, perlu dan sangat perlu penggodokan lagi, pencarian literatur lebih lanjut supaya tugas dapat terselesaikan dengan baik. Jika ada salah kata mohon ingatkan saya. Sampai jumpa.

(15.04.2014)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s