Daluang, Kertas Tradisional Indonesia

Hey, guys! Lama tak jumpa dengan saya pada liputan. Kemarin, tepatnya tanggal 14 Mei 2014, jurusan saya tercinta, Sastra Nusantara, kedatangan seorang tamu dari tanah Parahyangan yaitu Pak Tedi Permadi. Beliau adalah seorang seniman kertas atau bisa dibilang seniman daluang. Di kota Yogyakarta ini, beliau menjelaskan kepada kami mengenai daluang: sejarah serta cara pembuatannya. Di akhir sesi juga ditunjukkan secara langsung caranya dan kami bisa mencobanya sendiri.

Sebelum beranjak untuk membuatnya, udah pada tau belum sih apa itu daluang? Pernah melihatnya ‘kah? Banyak mungkin yang akan menjawab bahwa daluang adalah bahasa Jawa dari kertas. Akan tetapi sebenarnya pengertian itu kurang tepat. Daluang adalah kertas suci umat Hindu dan merupakan kertas tradisonal Indonesia. Sekitar tahun 60-an daluang dinyatakan punah. Tidak ada yang benar-benar mengetahui mengenai cara membuatnya. Hanya ada bentuk akhirnya yaitu banyak digunakan di naskah-naskah kuna. Diantaranya ada yang berupa khutbah idul fitri yang panjangnya mencapai 1,7 meter. Di dalam naskah-naskah tertentu memang disebutkan cara membuatnya namun tidak ada yang sepanjang itu, paling-paling ukuran A3+ dengan memanjang horizontal, dan mereka pun menghilangkan bagian-bagian penting: resep rahasia. Hingga saat ini, ada beberapa tempat yang diketahui sebagai pembuatan daluang yaitu: Madura, Garut (2004), dan Ponorogo (1997).

Pada dasarnya daluang dan kertas mempunyai fungsi dan bahan yang sama tapi mempunyai cara pembuatan yang berbeda. Kertas, dibuat dari pulp atau bubur kertas sedangkan daluang dibuat dengan cara menumbuk kulit kayu hingga melebar kemudiam diperam dan dijemur.

Jenis kulit kayu yang dipakai adalah dari pohon Saeh (Broussonetiapapyryfera Vent). Meskipun begitu, ia banyak memiliki sebutan/ nama lokal seperti daluang, dalancang, dluwang, dlancang, dilancang, dan lain sebagainya atau ulantage (sansekerta: yang diutamakan), bahkan dikenal sebagai half perkamen karena mirip dengan perkamen. Selain digunakan sebagai bahan media tulis, daluang yang tipis ini juga digunakan untuk pakaian pendeta, kopiah, karton. Fungsi lain daluang terutama bagi umat agama Hindu adalah sebagai ketitir dalam pelebon atau ngaben, sebagai kethu (mahkota penutup kepala untuk upacara keagamaan), tika (kalender hindu Bali), dan lain sebagainya. Dalam khazanah pernaskahan daluang juga banyak digunakan.

Seperti penggunaan media tulis dalam naskah serta media wayang beber yang panjangnya 4 meter tanpa sambungan.
Pada tahun 2004 karena kelangkaannya, daluang dihargai sangat mahal. Untuk ukuran 2 x 5 cm harganya Rp20.000,00, seukuran folio harganya Rp1.000.000,00, dan yang sebesar 50 x 200 cm harganya Rp15.000.000,00.
image019
Sekarang kita akan mulai mengenai cara pembuatan daluang. Persiapan yang pertama adalah kita menanam pohon daluang terlebih dahulu. Kemudian dirasa cukup umur, ditebang batangnya dan dikuliti. Buang kulit arinya lalu rendam dalam air dengan abu gosok, baking soda, atau apapun yang menghilangkan kadar asamnya. Jika direbus akan lama sekali, bisa lebih dari 6 jam. Kertas bebas asam akan tahan lama dan tidak mudah lapuk. Seperti halnya dapat dilihat pada buku-buku yang berwarna kusam lebih awet daripada buku-buku berwarna putih karena, menggunakan pemutih yang ada kadar asamnya. Kembali ke cara pembuatan, setelah direndam (minimal tiga har, jika berbusa diganti airnya), kulit kayu tersebut kemudian ditumbuk menggunakan penumbuk dari tembaga. Sebenarnya ada banyak motif penumbuk. Namun, yang kemarin digunakan adalah penumbuk bermotif garis vertikal yang jaraknya agak lebar dan ada yang pendek. Penumbuk yang berjarak lebar digunakan untuk melebarkan serat dan yang jaraknya pendek untuk menghaluskan. Ketika menumbuk, sebaiknya pada alas yang rata. Bagian yang ditumbuk adalah bagian punggung (yang menempel di batang kayu). Ukuran ketebalan kulit kayu akan menentukan seberapa lebar daluang yang bisa dibuat. Misal, kulit kayu setebal 6 mm bisa menghasilkan daluang sepanjang kurang lebih 15 cm. Terakhir, setelah mendapatkan lebar dan tebal yang diinginkan, dijemur pada batang pisang yang sudah dibersihkan, atau triplek yang dilapisi kain, atau lantai kayu (seperti saya).

Cara menumbuk kulit kayu:
a. Ditumbuk searah serat.
b. Untuk melebarkan, ditumbuk sambil bergeser ke kanan atau kiri.
c. Punggung di atas.
d. Sambil sedikit diangkat, ditumbuk.
e. Jika sudah, ditumpuk jadi dua kemudian ditumbuk menyilang (diagonal) untuk menyatukan serat.
f. Ketika sudah menyatu, ditumbuk searah serat lagi untuk dilebarkan selebar-lebarnya.

Trivia: Konon kata orang, selain batangnya dibuat untuk kertas, daunnya bisa dimakan sebagai lalapan tapi, hati-hati pohon ini banyak menarik ulat kecil-kecil. Tergantung tempat menanamnya, jika di daerah ‘perkebunan’ biasanya banyak ulatnya. Ada yang ditanam di kampus selama 12 tahun, sedikit ulatnya. Untuk yang ingin menanam pohon saeh, bisa menggunakan polibag untuk pembibitan. Ketika sudah tumbuh minimal 5 daun, dipilih satu cabang utama dan yang lainnya dibuang. Kemudian ia dipindah ke media tanam yang lebih luas (pekarangan). Setelah satu setengah tahun, bisa digunakan sebagai daluwang. Jangan dicabut, cukup ditebang dan disisakan sejengkal untuk kemudian ia bertunas lagi. Oh ya, tinta yang cocok untuk daluwang dan juga kertas-kertas lainnya adalah tinta yang tidak mengandung iron gol.

Di dunia banyak sekali kertas tradisional yang masih bertahan produksi dan pemanfaatannnya. Contohnya Washi di Jepang, dll. Produksi daluang terbesar sekarang di Thailand yang di sana disebut kertas sak.
(18.05.2014)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s