Ringkesaning Smaradhahana

Sugeng enjing kanca-kanca, malam ini Fira akan bercerita tentang kakawin Smaradahana. Seperti yang kita tahu, Smaradahana ditulis oleh mpu Dharmaja ketika separuh abad terakhir dari kerajaan Kediri. Kakawin ini dibuat bertujuan untuk memuji sri Kameswara yang merupakan raja Daha waktu itu. (Well, aku lupa kerajaan Daha itu sama dengan kerajaan Kediri atau pecahannya ya?).

Kisah dimulai ketika para dewa panik karena Nīlarudraka, raksasa jahat, menyerang surga. Tidak ada yang bisa menghentikannya karena dia telah diberi anugrah oleh Siwa bahwa ia hanya bisa dikalahkan oleh putera Siwa. Padahal Siwa sendiri belum memiliki anak dan sedang melakukan tapa-brata tanpa mau diganggu oleh siapapun. Karena keadaan semakin gawat, Indra dkk akhirnya meminta bantuan sang Kama untuk menyadarkan Siwa dari tapanya. Mulanya, Kama menolak karena takut akan resiko yang berbahaya. Namun setelah dibujuk-bujuk, akhirnya ia pun luluh. Bersama-sama mereka menuju pertapaan Sang Siwa dan Kama pun melaksanakan tugasnya. Menggunakan panah-panah asmaranya Kama berusaha membidik hati Sang Siwa. Sekali berhasil dan dampaknya sangat besar. Siwa marah dan mem’bumi’hanguskan Kama. Indra dkk lari terbirit-birit karena ketakutan dan panik. Tapi Wṛhaspati (siapa lagi itu? Nanti saya cari deh) menegur sikap pengecut Indra itu. Dengan takut-takut kucing (emang ada ya?) Indra balik ke markas Siwa dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi di luar sana. Ia juga memohon pada Siwa untuk menghidupkan kembali Kama yang tidak bersalah. Meski masih gondok, Siwa sadar akan perannya dan mau menghidupkan Kama kembali tapi dalam sosok tanpa wujud. Hmm, gimana yaa? Can you imagine, he still lives…..as a soul, yeah, maybe like that. Intermezzo sedikit, Ratih yang merupakan istri Kama sedih karena suaminya pergi dan memutuskan untuuk mengikuti jejak suaminya. Mereka, Kama dan Ratih, tetap hidup dalam diri para wanita dan pria. Kedua pasangan pertama yang mereka ‘rasuki’ ialah Siwa dan Uma. Singkat cerita Siwa dan istrinya, Uma, akhirnya melahirkan seorang putra bernama Gaṇa karena kepalanya berbentuk gajah. Mau tau kenapa? Karena ketika Uma hamil, dia ditakut-takuti oleh gajah Indra. Mungkin ini awal mula mitos di Jawa jika sedang hamil jauhilah hal-hal yang tidak disukai supaya anaknya tidak seperti itu. Kembali ke cerita, Nīlarudraka yang tahu hal itu semakin ingin mempercepat menghancurkan surga. Tapi dewa-dewa juga tidak mau kalah. Gaṇa diberi mantra-mantra dan doa-doa supaya mempercepat kebutuhannya serta diberi hadiah berupa senjata-senjata dari surga, semacam suplemen gitu mungkin kalau sekarang. Perang antar dewa-raksasa tidak terelakkan lagi. Akhirnya berhadapan juga mereka berdua setelah meninggalkan lautan darah. Nīlarudraka dapat dikalahkan dengan menggunakan senjata panah (kaṛuta), dipotong tangan, kaki, dan kepalanya. Pasukan dari pihak dewa yang mati dihidupkan kembali menggunakan amrta. Wṛhaspati pun dipuji-puji berkat sarannya yang bijaksana. Diakhir pupuh, diceritakan tentang inkarnasi-inkarnasi Ratih dan Kama kemudian. Pernah mereka menjadi Namuṣti dan Ratnawati. Kemudian Udayana dan dua orang istrinya, Bāsāwādā dan Rātnāwālī. Dan akhirnya mereka turun ke pulau Jawa menjadi Kameswara dan kekasihnya, Kiranaratu. Yey, selesai!

Sudah lama tidak menulis segila ini. Rasanya mengasyikkan daripada memikirkan plot-plot untuk kisah roman yang terlalu serius apalagi bikin makalah dan paper-paper. Setelah membaca dan diceritani tentang kakawin, serat, dan sebagainya saya mulai paham tentang plotnya. Baru menyadari jika imajinasi penyair dan mpu-mpu jaman dulu hebat sekali. Menemukan keasyikan ketika membacanya. Apalagi jika menulis omake-nya. Hehe. Bolehkah? Nanti aku sms Kei buat bikini fanficnya 😛

Oia, cerita diatas diambil dari ringkasan Kalangwan tentu saja hasil dari perasan otak saya juga (sepenangkap gue intinya). Sedangkan teks aslinya sendiri masih proses menuju ke sana. Doakan ya, supaya Fira bisa jadi filolog! Mohon maaf jika ada kealpaan dan kesalahan dan kegejean dalam uraian di atas..tidak ada sangkut-pautnya dengan Mbah alm. Zoetmulder, karena itu murni kesleboran saya. Langsung beritahu saja, dengan besar hati saya perbaiki! Kula pamit riyin! Mugi diparingi kasempatan liyang supaya saged kepanggihan malih!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s