One Day When A Rainbow Showed

Awan keabu-abuan menggantung di langit yang semula cerah. Siap memuntahkan berton-ton liter air yang dikandungnya. Seorang anak perempuan tampak tidak menghiraukan perubahan cuaca itu. Meskipun udara sangat gerah, namun gadis itu sepertinya tidak terganggu dengan kaos turtle neck merah marun dan celana panjang tiga perempat yang melingkari ketat kedua kakinya. Salah satu kakinya disilangkan di atas kaki lainnya. Ia duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya. Memandang langit yang terus memburuk keadaannya. Ia menunggu. Sedang menunggu.

”Emilia!”seseorang dari ujung gang memanggil namanya. Seorang gadis lain yang mengenakan kaos berlengan sangat pendek dan rok berlipit selutut. Wajahnya nampak khawatir.

”Ada apa Rhunee?”Emilia-nama gadis itu-bertanya seolah bisa membaca raut wajah Rhunee-kawannya yang baru saja datang itu-. Ia bangkit menyambut temannya itu. Teras tampak lengang. ”Jangan bilang kau habis bertengkar dengan Dave!”Rhunee kadang-kadang memang suka sekali bertengkar dengan pacarnya itu.

Rhunee mendekatkan mulutnya pada telinga Emilia. Setelah mengatur napasnya beberapa kali, ia berbisik pelan hampir tidak terdengar,”…”

Emilia menahan napas. Ia menatap wajah Rhunee seperti orang sehabis lari jarak jauh. Wajahnya agak pucat, ”Kau sungguh-sungguh Rhunee?” Dicengkeramnya erat lengan Rhunee yang sedang menatapnya ketakutan lebih pucat. Rhunee tak mampu menjawab, napasnya tersengal-sengal ketika di dengarnya ’sesuatu’ itu semakin mendekat. Ia hanya menganggukkan kepalanya terputus-putus kuat-kuat. Kemudian, digenggamnya tangan Emilia yang masih menatapnya tidak percaya.

Mereka berlari melewati gang-gang kecil yang kumuh yang mulai ramai sesak oleh orang. Kemudian tanah-tanah lapang tempat sapi-sapi dan kambing diternakkan. Tapi semuanya serba kacau. Di perbukitan mereka berhenti. Memandang bebas ke seluruh penjuru kota. Nampak kebakaran di mana-mana. Orang menyelawatkan seutas nyawa mereka tak tentu arah.

Emilia tertegun. Ia baru paham. Di sampingnya Rhunee, menangis sesenggukan wajahnya sudah pucat pasi. Sementara huru-hara semakin menggila. Desa mereka dianggap membangkang oleh pemerintah. Hanya karena pewajiban aturan agama yang memang dianut oleh seluruh panduduk. Dan semua orang jadi korbannya. Dan dalam sebulan ini huru-hara terus menghantui. Emilia tahu, ia tak perlu khawatir. Orang tuanya telah meninggal dalam huru-hara sebelumnya. Tapi, sementara Rhunee? Emilia baru sadar, ”Hei, Rhunee! Bagaimana dengan orang tuamu? Apa kau tak ingin membantu menyelamatkan mereka? Dan … Dave?” ditatapnya Rhunee panik yang sedang menelungkupkan kepalanya di antara kedua kakinya.

Rhunee mengangkat kepalanya. Wajahnya bersimbah air mata. Ia tersenyum miris pada Emilia, ”…mereka sudah meninggal kemarin, ditembak. Dan Dave, aku tak tahu dia ada di mana sejak seminggu lalu…”Rhunee nyengir diantara tangisnya, “…tapi aku masih punya kau.” Kemudian tersengguk lagi.

Emilia tertegun. Matanya menerawang menembus langit yang sudah jebol pertahanannya. Rintik hujan perlahan membasahi bumi, Emilia sebenarnya sudah benci dan capek menangis. Tapi entah mengapa hari itu pertahanannya juga ikut jebol seiring rintik hujan yang makin menderas. Anak-anak sungai mengalir bercampur hujan. Ia memeluk Rhunee yang masih menangis.

Angin dingin menerpa, menerjang mereka, alam murka, manusia menggila.

-phia©-

Rumah-rumah hancur, puing-puingnya hancur bersama remuk redamnya hati. Dua orang anak perempuan berjalan beriringan menyusuri rumah-rumah yang hancur. Mata mereka bengkak sebesar bola pingpong kebanyakan menangis. Tapi mereka tidak peduli. Mereka terus menyusuri lorong-lorong yang sudah hampir tidak berbentuk lagi. Sekali-kali bersembunyi menghindari tentara-tentara yang masih berkeliaran patroli.

Suatu kali mereka berlindung pada sebuah rumah yang puing-puingnya telah berserakan. Sementara, para tentara di belakang mencari-cari mereka. Yang mereka dengan sengaja melempari para tentara itu dengan batu sebelumnya karena marah dan kesal. Karena tak bisa melihat bunga kesayangan Emilia yang baru kemarin tumbuh, karena sudah tak bisa melihat burung-burung gereja berkeliaran di taman-taman kota, karena tak bisa merasakan sejuknya udara. Dan sejuta karena-karena lainnya yang membuat mereka marah.

Emilia dan Rhunee duduk berdampingan, meringkuk di salah satu sudut rumah sambil menahan napas. Di luar terdengar sura-suara sepatu lars tentara berdentum-dentum menyakitkan hati. Emilia sesekali meringis sambil mendekap lengan kanannya yang berlumuran darah karena sempat terserempet peluru salah satu tentara itu. Menahan darahnya agar tidak berceceran.

”Lenganmu..?” Rhunee bertanya khawatir melihat darah yang metes tak henti-henti dari lengan Emilia. Emilia mengangguk kuat-kuat sambil tersenyum dengan susah payang berusaha meyakinkan Rhunee bahwa ia baik-baik saja dan masih kuat. ”Ayo kita pergi saja dari sini.” pinta Rhunee setengah berbisik. Belum sempat Emilia menjawab, suara-suara sepatu lars tentara terdengar semakin mendekat. Tanpa buang waktu, Rhunee segera menarik Emilia meninggalkan tempat itu.

Tetapi rupanya terlambat, salah seorang tentara yang melihat mereka langsung mengokang dan menembakkan senapannya. Dor! Dor! Dor! Emilia yang berada di belakang, jatuh bersimbah darah. Rhunee langsung memeluknya dan menangis.

“Pergilah Rhunee!!” bisik Emilia lemah. “Lari, mereka tentara yang tidak kenal ampun!”

“Pergilah Rhun…!” sinar mata Emilia makin meredup. Rhunee menggeleng. Ia tidak akan meninggalkan Emilia. Bila ia selamat, kenapa Emilia ia biarkan menjadi korban?

Tentara-tentara itu semakin merangsek maju. Dan benar saja kata-kata Emilia, mereka tentara tentara yang tidak kenal ampun. Bukan, bukan tidak kenal ampun. Rhunee mengerut marah, mereka tentara yang tak pernah diajar moral oleh orang tua dan guru-guru mereka! Mereka tidak berperikemanusiaan!

Di luar, hujan mulai turun. Rintik-rintik membasahi bumi yang mengalirkan sungai ’merah’.

Emilia yang tidak bernyawa masih ditembaki oleh timah-timah panas itu. Hanya untuk memastikan bahwa Emilia sudah benar-benar meninggal. Sekarang, tinggal Rhunee sendirian yang kedua kakinya telah tertembak.

Hujan semakin deras memenuhi rongga telinga. Tampaknya langit sedang menangisi bumi yang semakin rapuh.

Rhunee menatap mata tentara-tentara itu, menantang. Wajahnya bersimbah air mata. Rhunee bisa melihat bahwa tentara-tentara itu sedang mengejek menertawakannya. Tapi, ia tidak peduli. Ia ingin tahu, apa yang akan dilakukan tentara-tentara itu.

Lima tembakan beruntun terdengar sayup-sayup dari kejauhan tertutup oleh derasnya hujan. Rhunee roboh seketika di samping Emilia, sahabatnya. Sebelum ia menutup matanya ia sempat berbisik, ”..ternyata mereka benar-benar biadab, Emilia!”

Ia tahu, bahwa di luar langit sedang menangis. Saat ia hendak menutup matanya, ia melihat segaris pelangi tergores di langit. Rhunee tersenyum. ”Emilia, kau menunggunya, bukan? Lihatlah, pelanginya indah sekali…”

-phia©-

Hoahemm… nyem… akhirnya selesai juga *nungguin sampe’ ngantuk-ngantuk*. Gimana? Gimana? Gaje gak? Aneh? Waduh, saia lupa warning nya:

WARNING!!!

aneh, gaje, gak enak dimakan, dst.

*ditimpukin readers baru ngasi tau soalnya* Yahh, tapii gapapa sih, Phi udah ngucapin makasih banget *soalnya udah dibaca, hihi* Sebenernya sih, fic ini mau aku publish di fictionpress. Tapi, karena lupa cara nge-publish-in nya *dasar!!! Akibat gak pernah update==”* jadi gak sempet lama-lama, hehehe….

ok, time 4 review

(republished from 14.07.2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s